Komunitas lokal pun turut memberi dukungan. Sejumlah pelaku seni, akademisi, hingga pecinta lingkungan hadir dalam pembukaan, menjadikan acara ini sebagai titik temu berbagai generasi yang ingin merawat bumi dengan cara masing-masing.
Kehadiran Ade Ardhana sebagai wajah muda yang berbicara lantang melalui seni menambah semangat bahwa gerakan mencintai bumi bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan gerakan kekinian yang hidup dan terus berkembang.
Melalui pameran ini, Bumi Kinar tak hanya menjadi ruang seni, tetapi juga ruang renungan. Di tengah dinamika pembangunan dan pariwisata, karya-karya Ade Ardhana menjadi pengingat bahwa bumi adalah rumah yang harus dijaga—bukan hanya pada Hari Bumi, tetapi setiap hari.
Bagi kamu yang sedang atau akan berada di Ubud hingga Juli nanti, pameran ini adalah destinasi yang layak dikunjungi. Bukan hanya untuk mengagumi keindahan visualnya, tapi juga untuk mendengarkan suara bumi yang disampaikan lewat mata jernih seorang anak muda Bali.