Bali In Your Hands - Matahari perlahan meredup saat ratusan perempuan berkain kebaya berjalan beriringan di jalanan desa dengan kepala tegak. setiap langkah mereka mantap dan penuh makna sambil menyeimbangkan gebogan, susunan sesajen yang ditata indah di atas kepala.
Gebogan ini berisi buah-buahan, bunga, dan kue tradisional yang dipersembahkan dalam prosesi sakral bernama mepeed.
Mepeed merupakan tradisi turun-temurun yang biasa digelar menjelang upacara keagamaan di pura. arak-arakan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta bukti kecintaan terhadap adat dan budaya.
Baca Juga: 12 Tips Menyetir Anti Ngantuk dan Bosan Selama Mudik Lebaran
Barisan panjang perempuan yang mengenakan kebaya dengan warna seragam menciptakan pemandangan menakjubkan, seolah membentuk gelombang warna yang bergerak harmonis menuju tempat suci.
Keindahan tradisi ini tidak hanya terletak pada visualnya, tetapi juga filosofi yang terkandung di dalamnya. setiap sesajen yang dibawa melambangkan rasa syukur kepada sang pencipta. buah-buahan mewakili kesuburan, bunga sebagai simbol keindahan, dan jajanan tradisional sebagai bentuk doa untuk keberkahan.
Di sepanjang perjalanan, peserta mepeed tetap berjalan dalam barisan rapi, tanpa suara gaduh, hanya suara gamelan yang mengiringi langkah-langkah mereka.
Ritual mepeed biasanya digelar di beberapa desa adat di bali, seperti desa tenganan dan desa pujin. Setiap desa memiliki ciri khas tersendiri dalam pelaksanaan tradisi ini, mulai dari tata cara penyusunan gebogan hingga jenis sesajen yang digunakan.
Meskipun begitu, esensi dari mepeed tetap sama yaitu sebagai bentuk pengabdian dan penghormatan kepada roh leluhur.
Persiapan mepeed tidak dilakukan secara sembarangan. sehari sebelum prosesi, para perempuan berkumpul untuk menyusun gebogan dengan penuh ketelitian. pemilihan buah dan bunga dilakukan dengan cermat, memastikan semuanya dalam kondisi terbaik.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Tempat Makan untuk Persinggahan Saat Mudik ke Pulau Jawa di Kota Solo
Selain itu, latihan berjalan dengan membawa gebogan di kepala juga menjadi bagian penting agar prosesi berjalan lancar tanpa hambatan.
Saat hari pelaksanaan tiba, seluruh peserta berkumpul di balai desa sebelum berangkat ke pura. mereka berbaris dengan tertib, dipimpin oleh pemangku atau pemuka adat yang mengawal perjalanan hingga tempat persembahyangan.
Sepanjang jalan, masyarakat setempat ikut menyaksikan dan memberi penghormatan, menciptakan suasana sakral yang sulit dilupakan.
Artikel Terkait
Keunikan Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali yang Menjadi Simbol Perlawanan Terhadap Energi Negatif
Tradisi Ngayah Ramadan! Gotong Royong Muslim Bali dalam Membangun Masjid
Tren Lebaran di Bali: Perayaan, Tradisi, dan Destinasi Favorit
Malam Takbiran di Pantai Tradisi Unik Muslim Bali Sambut Idul Fitri
Malam Pengerupukan: Tradisi Sakral Menjelang Hari Raya Nyepi di Bali