Bali In Your Hands - Penutupan jalur utama Denpasar–Gilimanuk karena jalan jebol di depan Pasar Bajera, Tabanan, menimbulkan efek domino terhadap arus logistik Bali bagian barat. Truk dan bus besar yang dialihkan ke jalur Gilimanuk–Singaraja terpaksa menghadapi medan ekstrem di lintasan pegunungan Buleleng. Tak sedikit sopir yang terjebak jalur curam dan sempit akibat mengikuti petunjuk Google Maps yang tak mempertimbangkan kondisi kendaraan besar.
Dua kecelakaan truk terjadi hanya dalam empat hari di jalur Singaraja–Denpasar via Sukasada. Truk pertama, DK 8744 GV, terjungkal di tanjakan Desa Wanagiri, sementara truk S 9445 NF bermuatan baja masuk ke jurang di Lingkungan Sangket. Kedua kejadian itu menyoroti kerentanan kendaraan besar saat melewati jalur alternatif Gitgit yang dikenal sempit dan penuh tikungan tajam.
Kasat Lantas Polres Buleleng AKP Bachtiar Arifin, dikutip dari Bali Express, menyebut sudah ada beberapa insiden serupa yang tidak dilaporkan resmi ke polisi karena kendaraan masih bisa melanjutkan perjalanan. Namun, ia menekankan perlunya kewaspadaan karena medan tersebut tidak dirancang untuk dilalui kendaraan sumbu tiga ke atas, apalagi yang membawa muatan berat.
Untuk mencegah kejadian serupa, penyekatan dilakukan di titik strategis seperti Pasar Banyuasri, Terminal Sangket, dan Tugu Tiga Singaraja. Petugas memberikan imbauan langsung kepada sopir agar tidak melintasi jalur Gitgit dan beralih ke jalur Singaraja–Amlapura yang lebih bersahabat untuk kendaraan besar. Jalur alternatif ini memiliki kontur lebih landai dan lebih aman untuk operasional kendaraan logistik.
Langkah mitigasi lebih lanjut juga mencakup anjuran untuk memecah muatan besar menjadi dua kendaraan kecil agar lebih fleksibel di medan ekstrem. Bus pariwisata yang hendak menuju Denpasar pun diimbau untuk tidak nekat mengambil jalur Gitgit demi menghindari risiko mogok hingga kecelakaan fatal. Ketepatan informasi arah serta kesiapan kendaraan menjadi krusial dalam situasi darurat pengalihan arus seperti ini.
Tren kecelakaan di jalur pengalihan ini menggambarkan betapa pentingnya pemahaman topografi lokal bagi pengemudi logistik. Dalam kondisi jalan utama tertutup, keputusan transportasi tak bisa hanya mengandalkan teknologi navigasi, tapi harus selaras dengan pertimbangan keselamatan dan kapasitas kendaraan. ***
Artikel Terkait
Mudik Lebaran ke Jawa Lewat Jalan Darat Pakai Mobil? Berikut Rute Populer dan Paling Aman Serta Tips Berkendara
Maskapai Bali Australia dan Asia Kembali Layani Rute akibat Erupsi Gunung Lewotobi Laki Laki