• Sabtu, 18 April 2026

Makna dan Macam-Macam Sajen Saat Hari Raya Galungan di Bali yang Sarat Filosofi

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Selasa, 11 November 2025 | 18:00 WIB
Ilustrasi persembahan suci (Canva/PhotoApp)
Ilustrasi persembahan suci (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan terpenting bagi umat Hindu di Bali. Dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Wuku Dungulan, Galungan menandai kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

Selain sembahyang di pura, salah satu tradisi yang paling khas dan penuh makna dalam perayaan ini adalah pembuatan sajen atau banten — persembahan suci yang digunakan untuk menghaturkan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

1. Banten Galungan: Sajen Utama Penuh Makna

Banten Galungan merupakan persembahan utama yang disiapkan sehari sebelum Galungan, pada hari Penampahan Galungan. Isinya beragam, mulai dari tumpeng nasi kuning, lawar, urutan (sosis babi khas Bali), ayam betutu, hingga buah-buahan segar. Semua disusun dengan estetika tinggi di atas wadah anyaman janur.

Baca Juga: Rumah Tanjung Bungkak, Ruang Kreatif Anak Muda Denpasar yang Selalu Hidup dengan Ide dan Musik

Menurut Luh Made Aryani, seorang pengelingsir adat di Denpasar, “Banten Galungan bukan sekadar simbol materi. Ia adalah bentuk rasa syukur dan keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin. Semua bahan di dalamnya punya makna filosofis — dari warna nasi hingga jenis lauk.”

2. Penjor: Simbol Gunung dan Kemakmuran

Tak lengkap Galungan tanpa penjor, bambu panjang melengkung yang dihiasi janur, padi, dan hasil bumi. Penjor dipasang di depan rumah sebagai lambang Gunung Agung, tempat bersemayamnya para dewa. Ornamen ini juga menjadi simbol kemakmuran dan pengabdian kepada Tuhan.

Setiap detail di penjor punya arti. Janur melambangkan kesucian, padi dan buah-buahan mencerminkan kesejahteraan, sedangkan bambu yang melengkung menandakan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta.

Baca Juga: Kerja Seru di Tepi Pantai Bali: 5 Spot Terbaik untuk Work from Paradise

3. Banten Penampahan: Persembahan untuk Bhuta Kala

Sehari sebelum Galungan, umat Hindu Bali melaksanakan Penampahan Galungan, yang berarti “menumpas sifat-sifat negatif”. Pada hari ini dibuat banten caru, yaitu sajen untuk Bhuta Kala agar tidak mengganggu keseimbangan dunia manusia. Biasanya terdiri atas nasi, lauk-pauk, dan hewan kurban seperti ayam atau babi, tergantung tradisi keluarga.

Banten ini diletakkan di halaman atau pekarangan rumah, simbol pembersihan energi negatif agar suasana spiritual rumah menjadi harmonis sebelum menyambut hari suci Galungan.

4. Banten Ngelawar dan Sate: Simbol Kebersamaan

Setiap keluarga Bali akan bergotong royong menyiapkan lawar (campuran sayur dan daging dengan bumbu khas Bali) serta sate lilit. Makanan ini tidak hanya menjadi hidangan keluarga, tapi juga bagian dari sajen. Tradisi membuat lawar bersama memperkuat nilai menyama braya atau kebersamaan antaranggota keluarga dan tetangga.

5. Banten Galungan di Pura dan Rumah

Pada hari Galungan, umat Hindu akan menghaturkan sajen di sanggah (tempat suci keluarga) dan pura-pura desa. Setiap tempat memiliki jenis banten yang berbeda. Di rumah tangga, biasanya ada banten peras, banten tegeh, dan banten ajuman. Sementara di pura, dibuat banten gebogan yang tinggi berisi buah, jajan, dan bunga warna-warni.

Galungan menjadi momen sakral untuk menyucikan diri, menyatukan keluarga, dan meneguhkan iman. Melalui beragam jenis sajen yang penuh simbol, masyarakat Bali mengekspresikan rasa terima kasih atas kehidupan dan harmoni alam semesta.

Setiap detailnya, dari janur hingga sebiji nasi, mengandung doa agar kebaikan selalu menang atas kegelapan — bukan hanya di dunia, tapi juga di hati setiap manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

3 Rekomendasi Rasa Italia Harga Warung Di Denpasar

Sabtu, 11 April 2026 | 20:18 WIB
X