• Sabtu, 18 April 2026

Menyingkap Desa Trunyan Dari sisi Tradisi Unik Pemakaman Terbuka di Bali

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Jumat, 24 Januari 2025 | 15:00 WIB
Desa Trunyan (veronica ellen)
Desa Trunyan (veronica ellen)

Bali In Your Hands - Bali, dengan segala keindahan dan keajaibannya, selalu menyimpan cerita yang menggugah rasa penasaran. Salah satu kisah menarik berasal dari Desa Trunyan, sebuah desa di tepi Danau Batur yang dikenal akan tradisi pemakamannya yang unik dan berbeda dari budaya Bali pada umumnya. Desa ini menjadi tempat di mana kehidupan, kematian, dan spiritualitas berpadu dalam harmoni yang menakjubkan.

Baca Juga: Pure dengan Penunggu Binatang Suatu Misteri Harmoni Manusia dan Alam di Bali

Terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Desa Trunyan menyuguhkan pesona tradisi yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Desa ini dihuni oleh penduduk asli Bali Aga, komunitas yang mempertahankan adat istiadat leluhur mereka sejak ratusan tahun lalu. Salah satu aspek paling mencolok dari tradisi mereka adalah cara pemakaman terbuka yang disebut Mepasah. Dalam tradisi ini, jenazah diletakkan di bawah pohon Taru Menyan tanpa dikubur atau dikremasi.

Baca Juga: Pesona Air Terjun Kanto Lampo Instagramable di Bali yang Mudah Dijangkau

Uniknya, meskipun jenazah dibiarkan di alam terbuka, tidak ada bau busuk yang tercium. Hal ini diyakini berkat pohon Taru Menyan yang mengeluarkan aroma wangi yang menyerap bau dari tubuh jenazah. Nama desa ini sendiri berasal dari pohon tersebut, dengan "Taru" berarti pohon dan "Menyan" berarti harum.

Baca Juga: Mampir ke Goa Gajah Gerbang Misteri Kuno di Bali dan Dunia Spiritualitas

Tradisi pemakaman di Trunyan tidak dilakukan sembarangan. Hanya jenazah tertentu yang dapat dimakamkan dengan cara ini, yaitu mereka yang meninggal secara wajar dan tidak memiliki cacat atau penyakit berat. Jenazah ditempatkan di atas tanah dan dilindungi oleh pagar bambu berbentuk segitiga, yang disebut ancak saji.

Ritual ini mencerminkan penghormatan mendalam terhadap leluhur dan kepercayaan akan keseimbangan alam. Masyarakat Trunyan percaya bahwa roh orang yang meninggal tetap hidup di sekitar mereka dan membutuhkan perlakuan yang penuh hormat agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. 

Mengunjungi Desa Trunyan adalah pengalaman yang memikat, tetapi membutuhkan usaha ekstra. Desa ini hanya dapat diakses dengan perahu motor dari Dermaga Kedisan di Danau Batur. Perjalanan melintasi danau yang tenang menawarkan pemandangan yang memukau, dengan latar Gunung Batur yang menjulang megah. 

Begitu tiba, suasana mistis langsung terasa. Anda akan melihat tempat pemakaman dengan ancakan bambu yang berisi jenazah-jenazah dalam berbagai tahap pembusukan. Di sekelilingnya, pohon Taru Menyan berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga spiritual tempat tersebut.

Memahami Filosofi Hidup dan Mati

Desa Trunyan memberikan sudut pandang yang berbeda tentang kehidupan dan kematian. Dalam tradisi mereka, kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari siklus alam yang terus berputar. Konsep ini terlihat jelas dalam cara mereka memperlakukan jenazah, yang dikembalikan langsung ke alam tanpa merusak atau mencemarinya.

Filosofi ini memberikan pelajaran berharga bagi kita yang hidup di era modern. Di tengah gempuran teknologi dan budaya instan, Desa Trunyan mengingatkan akan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan leluhur. Mereka menunjukkan bahwa kematian, yang sering dianggap tabu, sebenarnya adalah sesuatu yang alami dan harus diterima dengan hati terbuka.

Meski tradisi ini memukau banyak orang, tidak sedikit pula yang mempertanyakannya. Kebersihan dan keberlanjutan menjadi isu penting, terutama dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke desa ini. Sampah plastik dan perilaku wisatawan yang kurang menghormati adat sering kali menjadi sorotan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

3 Rekomendasi Rasa Italia Harga Warung Di Denpasar

Sabtu, 11 April 2026 | 20:18 WIB
X