• Sabtu, 18 April 2026

Waspada !! Januari 2025 Rekor Suhu Global Tertinggi, Pertanda Kerusakan Bumi?

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Rabu, 12 Februari 2025 | 09:22 WIB
Ilustrasi suhu panas. Shutterstock (Lamyai)
Ilustrasi suhu panas. Shutterstock (Lamyai)

Bali In Your Hands - Pada Januari 2025, dunia dikejutkan dengan catatan suhu udara permukaan yang mencapai 1,75°C di atas tingkat pra-industri, menjadikannya Januari terpanas dalam sejarah. Data ini dirilis oleh Copernicus Climate Change Service, sebuah program pengamatan Bumi yang didanai Uni Eropa. 

Baca Juga: 8 Tempat Berburu Takjil di Bali yang Populer Saat Bulan Suci Ramadhan

Yang lebih mengkhawatirkan, rekor ini terjadi meskipun fenomena La Niña, yang biasanya mendinginkan kawasan Pasifik tropis, sedang berlangsung. Para ilmuwan sebelumnya memperkirakan suhu global akan menurun setelah puncak El Niño pada Januari 2024 dan beralih ke fase La Niña yang mendinginkan. Namun, kenyataannya berbeda; suhu tetap tinggi atau bahkan mendekati rekor, memicu diskusi mengenai faktor lain yang berkontribusi terhadap pemanasan ini.

Di Indonesia, fenomena ini juga terasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa anomali suhu udara rata-rata pada Januari 2025 menunjukkan peningkatan sebesar 0,20°C dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Meskipun tampak kecil, ini merupakan anomali tertinggi ke-11 sejak pencatatan dimulai pada 1981.

Para ilmuwan menyatakan bahwa setiap kenaikan suhu di atas 1,5°C dapat memperparah intensitas serta frekuensi cuaca ekstrem seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan. Suhu permukaan laut yang tetap tinggi sepanjang tahun 2023 dan 2024 juga menjadi perhatian. Copernicus mencatat bahwa suhu laut pada Januari 2025 merupakan yang tertinggi kedua dalam sejarah pencatatan.

Pembakaran bahan bakar fosil menjadi pendorong utama pemanasan global jangka panjang. Namun, variasi iklim alami juga memengaruhi fluktuasi suhu dari tahun ke tahun. Para ilmuwan masih terus mencari faktor tambahan yang menyebabkan pemanasan berkelanjutan ini. Beberapa menduga bahwa perubahan dalam penggunaan bahan bakar pengiriman yang lebih bersih dengan mengurangi emisi sulfur berpotensi mengurangi pembentukan awan reflektif yang biasanya memantulkan sinar matahari. Namun, penelitian ini masih dalam tahap tinjauan sejawat dan menjadi bahan perdebatan.

Fenomena kenaikan suhu global ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan planet kita. Apakah ini pertanda bahwa Bumi sedang mengalami kerusakan yang semakin parah? Atau adakah harapan bagi kita untuk membalikkan tren ini? Yang pasti, data dan fakta yang ada saat ini mengingatkan kita akan pentingnya tindakan nyata dalam menjaga keseimbangan iklim dan lingkungan. Sudah saatnya kita bertindak bijak dan bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Terkini

3 Rekomendasi Rasa Italia Harga Warung Di Denpasar

Sabtu, 11 April 2026 | 20:18 WIB
X