Bali In Your Hands - Mengenal Kwangen sebagai salah satu media persembahyangan umat hindu Bali
Pada artikel sebelumnya, sudah sempat dijelaskan tentang canang sari, yang merupakan salah satu bentuk persembahan yang rutin dilakukan umat Hindu bali dalam kesehariannya. Secara umum bagi masyarakat luas ataupun wisatawan hanya mengetahui jika umat Hindu bali berdoa menggunakan sarana berbagai jenis bunga-bunga’an.
Baca Juga: Mekare-kare Tradisi Keberanian dan Kehidupan dari Desa Tenganan Pegringsingan
Maka dari itu, di artikel ini akan dijelaskan tentang intrumen apa saja yang digunakan oleh umat Hindu Bali, salah satunya adalah Kwangen.
Kwangen memiliki bentuk menyerupai cone (dalam bahasa bali disebut kojong), didalamnya diisi suatu hiasan dari janur disebut dengan sampian, aneka bunga warna-warni disebut sekar, irisan pandan harum disebut dengan kembang rampe dan uang kepeng(uang logam kuno) jaman sekarang boleh diganti dengan uang logam dan sekapur sirih.
Baca Juga: Rahasia yang Tersembunyi di Balik Upacara Pemelastian Tradisi Spiritual yang Harus Diketahui
Kata Kwangen berasal dari bahasa jawa yaitu wangi yang berarti harum, dimana ada awalan ka dan akhiran an. Jadi ketika digabungkan menjadi Kawangian dan seiring dengan waktu menjadi Kwangen. Kwangen sendiri adalah sebuah media yang digunakan pada sa’at melakukan sembah ke tiga dalam melaksanakan persembahyangan Panca Sembah (tata laksana urutan persembahyangan), dimana Umat memuja dan mengagungkan Hyang Widhi Dalam manifestasinya pada Padmasana dan Ista Dewata, Karena Kwangen itu sendiri adalah sebuah symbol dari Omkara, yaitu Aksara suci yang melambangkan Hyang Widhi Wasa (Sebutan Tuhan bagi umat Hindu Bali).
Jadi secara singkatnya, Kwangen adalah berbagai unsur wewangian yang dijadikan satu dan menjadi symbol suci Omkara, digunakan untuk memuja Tuhan secara spesifik pada sembah ke tiga pada prosesi panca sembah.