• Sabtu, 18 April 2026

Kuliner Pedas Ayam Betutu Arwah di Gianyar yang Menyimpan Rasa Duka dalam Nasi Campur Bali Paling Diburu Wisatawan

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Senin, 7 April 2025 | 13:00 WIB
 Ayam Betutu Khas Bali  (https://foodpornindonesia.blogspot.com/)
Ayam Betutu Khas Bali (https://foodpornindonesia.blogspot.com/)


Bali In Your Hands - Di balik kepulan asap dari dapur tanah liat di sebuah warung sederhana di Gianyar, aroma rempah menguar dengan kuat. Nasi campur Bali dengan ayam betutu jadi primadona siang itu, menyatu dengan daun singkong, lawar, sambal matah, dan kacang goreng yang renyah.

Namun, bukan hanya karena kenikmatan rasa yang membuat sajian ini menarik perhatian, melainkan kisah yang tersembunyi di balik olahan ayam betutu yang disebut Ayam Betutu Arwah.

Baca Juga: Nasi Ayam Men Weti dan Nasi Ayam Kedewatan: Kuliner Halal Favorit di Bali

Pemilik warung, seorang perempuan sepuh bernama Ni Ketut Darmi, menyajikan ayam betutu berdasarkan resep warisan keluarga. Ia menyebut masakan ini dulunya dibuat untuk upacara ngaben sebagai persembahan terakhir kepada arwah leluhur. Ayam yang dimasak utuh dengan bumbu base genep itu disiapkan dalam ritual semalam penuh, ditemani doa dan dupa.

Setelah disajikan kepada roh, sisa hidangan lalu dibagi ke keluarga sebagai bentuk penerimaan dan keikhlasan atas kepergian orang yang dicintai.

Baca Juga: Nggak Percaya Ada Nasi Ayam Hainan Enak dan Murah di Bali? Buktikan Sendiri!

Kini, Ayam Betutu Arwah disajikan kepada khalayak luas, tetapi kisah duka yang membungkusnya tetap dijaga. Saat menyantapnya, warga lokal meyakini akan merasakan rasa yang berbeda lebih dalam dan menusuk emosi. Beberapa pengunjung bahkan mengaku merinding saat mencicipi, seolah ada energi tak terlihat yang hadir dalam setiap suapan.

Warung ini buka dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA dan hanya menyajikan 50 porsi per hari untuk menjaga kualitas dan nilai sakralnya.

Baca Juga: 6 Kuliner Ayam Legendaris di Bali: Sudah Coba yang Mana?

Dalam setiap lapis rasa yang melekat pada nasi campur Bali, tersimpan pesan tentang bagaimana kehilangan bisa diolah menjadi kekuatan dan rasa syukur. Tradisi bukan sekadar cerita lama, tetapi napas yang menyatu dalam makanan dan menjadi pengingat akan cinta yang tak lekang oleh waktu.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X