Bali In Your Hands - Banjir dan longsor yang menewaskan sedikitnya 14 orang di Bali tidak hanya disebabkan curah hujan ekstrem. Faktor manusia seperti sampah yang menumpuk di sungai dan pembangunan vila yang merajalela turut memperburuk keadaan. Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan budaya kini menghadapi ancaman nyata dari tata kelola lingkungan yang diabaikan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti dua penyebab utama. Pertama, sampah yang menyumbat aliran air hingga menggenangi permukiman. Kedua, maraknya pembangunan vila, hotel, dan rumah di lahan persawahan maupun bukit tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Kedua faktor ini melemahkan kemampuan Bali dalam menyerap hujan lebat.
Baca Juga: Banjir Bali Renggut Nyawa Warga Hingga Rumah Amblas di Denpasar dan Jembrana
Poin penting yang membuat bencana semakin fatal di Bali antara lain
-
Sungai dan saluran air dipenuhi sampah plastik dan material limbah
-
Hilangnya ruang terbuka hijau akibat pembangunan pariwisata
-
Tata ruang daerah wisata tidak terkendali dan minim pengawasan
Kondisi ini menimbulkan dilema antara perkembangan pariwisata dengan keselamatan lingkungan. Jika tidak ada langkah nyata menertibkan pembangunan dan mengelola sampah, bencana serupa berpotensi terulang.
Baca Juga: Banjir Bandang: Pengertian dan Penyebab Utamanya
Banjir maut ini menjadi pengingat bahwa alam Bali tidak bisa ditukar dengan kepentingan sesaat. Pulau ini membutuhkan kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan ekosistem agar tetap menjadi tempat yang aman sekaligus memikat dunia. ***
Artikel Terkait
Kelabu Banjir Bali Tanggap Darurat Satu Pekan Menguak Pelajaran Hidup
Banjir Bandang: Pengertian dan Penyebab Utamanya
Banjir Bali Renggut Nyawa Warga Hingga Rumah Amblas di Denpasar dan Jembrana