• Sabtu, 18 April 2026

Peringatan Puputan Margarana Bertepatan Umanis Galungan Ramai Tradisi Mamunjung

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Jumat, 21 November 2025 | 10:00 WIB
Peringatan Puputan Margarana Bertepatan Umanis Galungan Ramai Tradisi Mamunjung (nusadua)
Peringatan Puputan Margarana Bertepatan Umanis Galungan Ramai Tradisi Mamunjung (nusadua)

 

Bali In Your Hands - Pagi di TPB Margarana terasa berbeda ketika sinar matahari memantul pelan pada deretan tugu nisan yang berdiri teduh. Para keluarga pejuang mulai berdatangan sejak jam awal, membawa canang, bunga segar, dan cerita yang diwariskan turun temurun.

Hari itu bukan hanya peringatan perjuangan 20 November, melainkan pertemuan dua rahinan suci yang jarang terjadi. Umanis Galungan dan Tilem Sasih Kalima membuat suasana taman bahagia berubah lebih hidup. Setiap langkah terasa seperti membawa ingatan pulang ke masa lampau.

Baca Juga: Tradisi Berbagi Gerindra Bali Semarakkan Galungan Dengan Penyaluran 139 Babi

Area Subak Kaang di Desa Adat Kelaci, Marga, Tabanan menjadi titik yang menyatukan ratusan keluarga dari 1.372 Pasukan Ciung Wanara yang gugur pada 1946. Tradisi mamunjung tampak lebih ramai, seolah menjadi jembatan antara rasa syukur Hari Raya Galungan dan penghormatan pada leluhur yang mempertahankan dharma. Banyak keluarga datang dengan formasi lengkap, memanfaatkan libur rahinan untuk ziarah sambil berkumpul.

Ketut Segara, keluarga pejuang I Rai Pongot, menyebut momen ini langka. Biasanya ia hanya datang setiap 20 November, namun bertemunya Hari Puputan dengan dua rahinan suci memberi makna baru. Di antara suasana syahdu, obrolan ringan keluarga menyatu dengan doa yang dihaturkan. Tradisi ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenali sejarah dari akar paling dekat yaitu kisah para leluhur.

Baca Juga: Jejak Rasa Nasi Tepeng Pasar Senggol Klungkung Hidangan Rempah Tradisi Dengan Sensasi Autentik Bali

Nyoman Suartana, keluarga pejuang I Gedjor, menilai kehadiran keluarga yang membludak sebagai isyarat bahwa semangat perjuangan masih tertanam. Menurutnya, dua rahinan yang baik ini menjadi waktu tepat untuk merefleksikan kembali nilai dharma yang diperjuangkan para pahlawan. Ia berharap generasi penerus tidak hanya mengenang, tetapi memahami bahwa kemerdekaan tumbuh dari keberanian mempertahankan kebenaran.

Ziarah kali ini menghadirkan dimensi baru dalam peringatan Puputan Margarana. Pertemuan tradisi, rahinan, dan sejarah menciptakan suasana yang mengikat generasi masa kini dengan jejak perjuangan masa lalu. Di tengah keramaian yang hangat, TPB Margarana kembali menjadi ruang suci di mana cerita pengorbanan diteruskan dari satu keluarga ke keluarga lain.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Bali In Your Hands

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X