panduan-bulanan

Ngayah Saat Lebaran Menjadi Wujud Toleransi Umat Hindu dalam Menjaga Masjid di Bali

Senin, 31 Maret 2025 | 11:05 WIB
Ngayah Saat Lebaran Menjadi Wujud Toleransi Umat Hindu (https://bali.antaranews.com/)

Bali In Your Hands - Di Bali, semangat gotong royong tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam perayaan keagamaan. Salah satu tradisi unik yang masih terjaga adalah ngayah, konsep bekerja tanpa pamrih yang dilakukan secara sukarela.

Tidak hanya terbatas pada upacara adat Hindu, ngayah juga diterapkan dalam perayaan Lebaran, di mana umat Hindu turut serta membantu menjaga masjid dan lingkungan sekitar saat umat Muslim melaksanakan ibadah.

Baca Juga: Gamelan Tengah Malam di Sebuah Desa yang Membawa Misteri dan Cerita Lama

Tradisi ini telah berlangsung bertahun-tahun di beberapa wilayah di Bali, seperti di Desa Pegayaman, Singaraja, dan beberapa daerah lainnya. Setiap kali Lebaran tiba, para pemuda Hindu bergotong royong bersama umat Muslim untuk menjaga keamanan, mengatur lalu lintas, hingga membersihkan area masjid setelah salat Id. Ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai kebersamaan tetap dijunjung tinggi meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.

Salah satu momen paling berkesan terjadi di Pegayaman, desa yang dikenal dengan keharmonisan antara umat Hindu dan Muslim. Setiap tahun, para pecalang Hindu secara sukarela membantu menjaga jalannya perayaan Lebaran agar tetap kondusif. Mereka berdiri di depan masjid, memastikan jalur lalu lintas tetap lancar, serta membantu jamaah yang membutuhkan bantuan. Sikap ini bukan sekadar bentuk toleransi, tetapi juga ekspresi dari nilai luhur ngayah yang menjadi bagian dari budaya Bali.

Baca Juga: Macam-Macam Ucapan Selamat Idul Fitri dalam Bahasa Indonesia dan Arab

Selain menjaga keamanan, umat Hindu juga turut serta dalam persiapan Lebaran dengan membantu membersihkan area masjid sehari sebelum perayaan. Beberapa warga Hindu juga kerap membantu dalam penyediaan makanan untuk takjil atau konsumsi bagi umat Muslim yang merayakan. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan sosial yang telah terjalin sejak lama.

Nilai ngayah yang diterapkan saat Lebaran mengajarkan bahwa kebersamaan bisa terjalin melalui tindakan sederhana. Di tengah perbedaan, semangat gotong royong tetap menjadi perekat utama dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa Bali, dengan keberagaman budayanya, tetap mampu menjaga harmoni antarumat beragama.

Baca Juga: Yuk Pahami Sejarah, Filosofi, dan Macam-Macam Bentuk Ketupat

Kisah-kisah seperti ini semakin menguatkan bahwa toleransi bukan sekadar konsep, tetapi juga bisa diwujudkan dalam aksi nyata. Di Bali, perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan menjaga satu sama lain. Lebaran bukan hanya tentang perayaan umat Muslim, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat luas ikut berkontribusi dalam menciptakan suasana yang damai dan penuh kebersamaan.

Ngayah saat Lebaran menjadi simbol kuat bahwa harmoni antarumat beragama tetap terjaga di Bali. Di tengah perbedaan, gotong royong menjadi jembatan untuk menciptakan kehidupan yang lebih rukun dan saling menghargai.***

Tags

Terkini