panduan-bulanan

Sensasi Menginap Di Gubuk Kayu Petani Yang Disulap Jadi Bali Eco Stay Klasik Di Tengah Dedaunan Tabanan

Jumat, 11 April 2025 | 12:00 WIB
Menginap di tengah kebun tua petani dengan fasilitas ramah lingkungan dan pengalaman hidup lokal yang tidak tergantikan (https://www.familyvacationcritic.com/)


Bali In Your Hands - Di balik sunyinya pedesaan di Pupuan, Tabanan, berdiri sebuah gubuk kayu tua peninggalan petani Bali zaman dulu. Bangunan sederhana ini dulu digunakan sebagai tempat beristirahat setelah panen, kini bertransformasi menjadi penginapan Bali eco stay bergaya rustic klasik yang unik dan menyatu dengan alam. Tanpa modifikasi besar, justru kesan antik dan autentik jadi daya tarik utamanya.

Baca Juga: Menginap Diatas Kolam Lautan Tenang Dan Sarapan Dengan Kabut Tipis Pegunungan Timur Di Balik Perbukitan Amed

Lokasinya tersembunyi di tengah kebun kopi dan kakao yang luas, sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Denpasar menuju arah barat laut. Akses termudah adalah menggunakan kendaraan pribadi atau motor, karena lokasi tidak terjangkau oleh angkutan umum. Pengunjung harus melewati jalan kecil berbatu sepanjang 800 meter sebelum akhirnya menemukan penginapan ini yang berdiri sendiri di atas lahan petani aktif.

Baca Juga: Sensasi Menginap Di Rumah Pohon Seribu Jendela Buleleng Dengan Pemandangan Pegunungan Dan Kabut Pagi Yang Mempesona

Harga menginap dibanderol sekitar Rp375.000 per malam untuk dua orang, termasuk sarapan lokal berupa nasi sela, kopi tubruk, dan buah segar kebun. Fasilitasnya tidak mewah namun sangat fungsional, seperti kasur empuk dari kapuk alami, toilet kering yang ramah lingkungan, pancuran air dingin dari sumber mata air, dan lampu tenaga surya. Tersedia juga ruang santai dari bambu yang langsung menghadap ke petak kebun dan lembah kecil di sisi timur.

Baca Juga: 5 Desa Homestay Terbaik Menginap di Surga Tersembunyi Bali

Keunikan penginapan ini terletak pada pengalaman keseharian ala petani: mulai dari menumbuk kopi secara manual, hingga belajar mengenal tanaman rempah. Tidak ada sinyal kuat di area ini, membuat waktu seakan berjalan lebih lambat. Gubuk ini bukan hanya tempat bermalam, tetapi juga tempat membiarkan tubuh dan pikiran menyatu kembali dengan ritme alam yang tenang dan tak tergesa.

Kadang untuk menemukan ketenangan, tidak harus selalu megah dan gemerlap. Cukup duduk di beranda gubuk tua, melihat matahari turun perlahan di antara hijau dedaunan. Sebuah jeda yang tak ternilai harganya.***

Tags

Terkini