Bali In Your Hands - Di balik hamparan sawah hijau dan sistem irigasi subak yang terkenal, terdapat ritual sakral yang dijalankan oleh petani Bali untuk memulai musim tanam. Ritual ini dikenal sebagai Mapag Toya, yang berarti 'menjemput air'. Dilaksanakan di hulu sungai, ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam dan permohonan kepada Tuhan agar diberikan air yang melimpah untuk kesuburan tanaman.
Baca Juga: Melukat: Ritual Suci Bali yang Menyentuh Jiwa Wisatawan Dunia
Salah satu lokasi pelaksanaan Mapag Toya adalah di Subak Pegayaman, Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng. Di sini, ritual dilakukan dengan nuansa Islami, di mana masyarakat menggelar doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas limpahan air yang diberikan.
Ritual ini biasanya dilaksanakan setahun sekali, sebelum musim tanam dimulai. Selain di Subak Pegayaman, Mapag Toya juga dilaksanakan di Subak Wongaya Gede, Tabanan, dengan menggunakan babi guling sebagai persembahan, dan setiap tiga tahun sekali menggunakan kerbau untuk upacara Pakelem.
Pelaksanaan Mapag Toya tidak hanya sebagai bentuk permohonan air, tetapi juga sebagai wujud pelestarian budaya dan tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ritual ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, yang menjadi dasar filosofi Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Bali.
Melestarikan tradisi seperti Mapag Toya adalah langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan budaya lokal. Dengan memahami dan menghargai ritual ini, generasi muda dapat belajar tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan sesama.
Baca Juga: Di Desa Tua Karangasem Ada Ritual Tersembunyi Dengan Kehadiran Para Dewa
Mapag Toya adalah ritual sakral di Bali yang menandai permulaan musim tanam, dilakukan di hulu sungai sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan permohonan air untuk kesuburan tanaman.***