GayaKeren.id - Di sudut perkampungan Bali pada masa lalu rujak batu menjadi camilan istimewa anak desa yang mengandalkan kreativitas alam.
Tidak berbahan buah seperti rujak pada umumnya melainkan menggunakan batu kecil halus yang dibersihkan lalu dicampur bumbu sambal pedas.
Tradisi unik ini mengakar kuat pada masa ketika akses terhadap buah segar terbatas dan anak anak tetap ingin merasakan sensasi makan rujak.
Baca Juga: 7 Supermarket Terbaik di Bali untuk Beli Logistik Makanan & Minuman Sebelum Trekking
Nama rujak batu muncul dari bahan utamanya yakni batu kerikil kecil yang aman dikonsumsi setelah dibersihkan berulang kali.
Menurut cerita masyarakat Bali terutama di desa desa kawasan Karangasem dan Bangli rujak ini menjadi lambang keakraban dan kreativitas di tengah keterbatasan.
Anak anak membawa batu dari sungai lalu membuat sambal dadakan dari cabe garam dan kadang kala asam yang diulek sederhana di atas batu datar.
Baca Juga: 7 Makanan Indonesia Masuk Daftar 50 Street Food Terbaik Dunia versi TasteAtlas 2025, Ini Daftarnya!
Masyarakat Bali memaknai rujak batu bukan hanya sebagai makanan ringan melainkan simbol ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dengan alam.
Kini rujak batu mulai dikenalkan kembali dalam kegiatan budaya desa sebagai bagian dari upaya melestarikan tradisi lokal.
Tidak sedikit festival kuliner tradisional di Bali yang memasukkan rujak batu sebagai atraksi menarik menghidupkan kembali kenangan masa kecil sambil mengajarkan nilai kesederhanaan kepada generasi muda.***