Bali In Your Hands - Di sudut-sudut jalan Bali, sering terlihat wadah kecil dari janur berisi bunga warna-warni.
Bentuknya sederhana namun sarat makna, kerap ditempatkan di atas tanah, depan toko, hingga altar kecil rumah warga.
Inilah canang sari, sesajen harian yang menjadi simbol persembahan masyarakat Hindu Bali kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Baca Juga: Perjalanan Ke Tenganan Bali Tentang Tradisi Leluhur Dan Keberanian Lelaki Dalam Ritual Mekare Kare
Canang sari dibuat dari daun janur yang dianyam menjadi wadah kecil, lalu diisi berbagai jenis bunga seperti cempaka kuning, mawar merah, dan sandat.
Masing-masing warna bunga mewakili arah mata angin dan dewa-dewa yang menjaga arah tersebut.
Ditambah dengan sejumput beras, dupa, serta kadang uang koin sebagai pelengkap, canang sari diyakini sebagai bentuk rasa syukur dan menjaga keharmonisan hidup.
Waktu peletakan canang sari biasanya pagi atau sore, tergantung dari tujuan persembahannya. Di depan toko atau tempat usaha, canang sari menjadi simbol permohonan berkah atas rezeki dan perlindungan.
Baca Juga: Unik! Tradisi Pemakaman Terbuka Desa Trunyan Dengan Wangi Taru Menyan Yang Menghormati Leluhur Bali
Di trotoar, canang sari ditempatkan sebagai bentuk penghormatan kepada bhuta kala atau energi negatif agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Bukan sekadar ritual, canang sari menjadi wujud filosofi menyatu dengan alam, ketulusan hati, dan kepekaan spiritual masyarakat Bali.
Meski berukuran kecil, setiap canang sari dirangkai dengan niat tulus dan aturan yang diwariskan turun-temurun. Di tengah kemajuan zaman, tradisi ini terus dipertahankan dan menjadi wajah autentik Pulau Dewata. ***