panduan-bulanan

Panduan Gaya Hidup: 17 Hari Suci Umat Hindu Bali di September 2025

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Berbagai hari suci umat Hindu Bali (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Menjelang memasuki bulan September 2025, umat Hindu di Bali dan Lombok bersiap menyambut serangkaian hari suci—dikenal sebagai rerainan—berdasarkan kalender Bali (Saka).

Dengan total 17 hari suci sepanjang bulan, masyarakat mendalami makna spiritual, tradisi, serta manfaat yang melekat pada setiap momentum sakral ini.

Berangkat dari 1 September (Candung Watang) dan mencapai puncaknya pada 30 September, berikut jadwal lengkap rerainan beserta makna singkatnya:

Baca Juga: Rahasia Hidup Robert Kiyosaki, Penulis 'Rich Dad Poor Dad' yang Bangun Mindset: Kaya Bukan Hanya soal Uang

Tanggal Nama Rerainan Arti / Kegiatan Utama
1 Sep Candung Watang Awal rangkaian suci 
2 Sep Paid-Paidan — 
3 Sep Buda Urip (Hari Urip) — 
4 Sep Panegtegan (Hari Patetegan) — 
5 Sep Pangredanaan — 
6 Sep Hari Raya Saraswati Merayakan Dewi Saraswati, simbol ilmu dan kreativitas 
7 Sep Banyu Pinaruh; Purnama Sasih Katiga Ritual mandi tirta, permohonan suci; bulan purnama 
8 Sep Soma Ribek Persembahan kepada Dewi Sri atas kesuburan 
9 Sep Sabuh Mas Permohonan berkah atas harta dan kekayaan 
10 Sep Pagerwesi Doa untuk keselamatan alam dan umat 
15 Sep Kajeng Keliwon Uwudan — 
20 Sep Tumpek Landep Persembahan untuk alat-alat tajam dan senjata 
21 Sep Redite Umanis Ukir Persembahan kepada Bhatara Guru 
22 Sep Tilem Sasih Katiga Bulan mati (tilem) pada sasih ketiga 
24 Sep Buda Cemeng Ukir Persembahan kepada Sang Hyang Sri Nini 
26 Sep Hari Bhatara Sri — 
30 Sep Kajeng Keliwon Enyitan; Anggara Kasih Kulantir Dua momentum suci berbarengan di akhir bulan 

Gaya Hidup Spiritual di Balik Rerainan

Kalender Bali, yang menggunakan sistem Saka luni-solar, tidak hanya menandai tanggal—melainkan juga momentum untuk memperkuat hubungan dengan alam, leluhur, dan nilai kerohanian. Misalnya:

Baca Juga: Sejarah Demonstrasi Besar di Indonesia: Dari Malari 1974 sampai Reformasi 1998

  • Saraswati (6 September): Mendorong refleksi dan penyucian pikiran melalui penghormatan terhadap ilmu dan seni.

  • Tumpek Landep (20 September): Membangkitkan rasa syukur pada keterampilan dan alat yang menopang kehidupan sehari-hari.

  • Pagerwesi (10 September): Mengajak ketenangan batin, meditasi, dan doa untuk penjagaan alam semesta.

Tren liturgi ini tak sekadar ritual kaku, melainkan momen untuk gaya hidup mindful, introspektif, dan harmonis—sesuatu yang makin dicari di era modern ini.

Tags

Terkini