Bali In Your Hands - Menetapkan harga jual produk kuliner bukan sekadar menempelkan angka di label. Kesalahan dalam strategi harga bisa berdampak pada citra merek, keuntungan, hingga keberlangsungan usaha. Fenomena asal menentukan harga, seperti yang sempat disorot publik pada kasus Pinkan Mambo, menjadi contoh bahwa harga yang tidak realistis justru memicu kontroversi dan mengurangi kepercayaan konsumen. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menentukan harga jual produk kuliner?
1. Hitung Modal Secara Detail
Langkah pertama adalah memahami biaya pokok produksi (BPP). Ini mencakup semua bahan baku, bumbu, minyak, gas, listrik, hingga kemasan. Jangan lupa memperhitungkan tenaga kerja, baik itu karyawan maupun tenaga pribadi yang dilibatkan dalam proses produksi. Dengan menghitung modal secara detail, pelaku usaha bisa memastikan harga yang dipatok tidak merugikan.
Baca Juga: Philadelphia Sushi Jimbaran: Menu Ikonik yang Dipuji Food Vlogger dan Cara Pemesanannya
2. Tambahkan Margin Keuntungan
Setelah mengetahui biaya produksi, tentukan margin keuntungan yang wajar. Umumnya, bisnis kuliner menambahkan margin antara 30–50 persen, tergantung pada jenis produk dan segmen pasar. Misalnya, sebuah minuman kopi susu dengan biaya produksi Rp10.000 bisa dijual seharga Rp15.000 hingga Rp20.000. Margin ini bukan hanya soal keuntungan, tapi juga untuk menutup biaya operasional lain yang tidak terlihat, seperti transportasi dan pajak.
3. Lakukan Riset Pasar
Harga jual tidak bisa lepas dari kondisi pasar. Lihat bagaimana kompetitor mematok harga untuk produk serupa. Riset sederhana bisa dilakukan dengan mengunjungi kafe, restoran, atau gerai makanan di sekitar lokasi usaha. Jika harga terlalu tinggi dibanding pesaing, konsumen bisa lari. Sebaliknya, jika terlalu rendah, bisnis akan sulit berkembang.
Baca Juga: Souphoria di Umalas dan Renon: Surga Kuliner Babi yang Jadi Favorit Pecinta Rasa Autentik
4. Sesuaikan dengan Segmen Konsumen
Produk kuliner memiliki target pasar yang berbeda. Makanan rumahan dengan harga terjangkau cocok untuk segmen pekerja kantoran atau mahasiswa. Sementara hidangan premium dengan bahan impor bisa dipatok lebih tinggi untuk menyasar kelas menengah ke atas. Mengetahui siapa konsumen utama sangat membantu dalam menentukan strategi harga.
5. Pertimbangkan Nilai Tambah
Harga bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman. Kemasan estetik, pelayanan ramah, hingga branding media sosial bisa menambah nilai jual. Produk dengan kemasan menarik dan konsep unik biasanya lebih diterima meski harganya sedikit lebih mahal. Konsumen rela membayar ekstra jika merasa mendapatkan pengalaman yang berbeda.
6. Uji Pasar dan Evaluasi