Bali In Your Hands - Di barat Pulau Dewata, tepatnya di Kabupaten Jembrana, terdapat perkebunan kakao yang menjadi sumber kebanggaan petani lokal. Kakao Jembrana dikenal memiliki kualitas premium dengan cita rasa khas yang diminati industri cokelat dunia.
Teksturnya halus, aroma cokelatnya pekat, dan kadar lemaknya seimbang, menjadikannya bahan baku pilihan bagi produsen cokelat artisan maupun pabrik besar di Eropa.
Baca Juga: Cara Membuat Minuman Coklat Praktis dan Enak untuk ide jualan di Rumah
Proses budidaya kakao di Jembrana masih banyak dilakukan dengan cara tradisional. Petani menjaga kualitas dengan memanen buah yang benar-benar matang, lalu difermentasi secara alami sebelum dijemur di bawah sinar matahari.
Fermentasi ini penting karena menghasilkan aroma kompleks dan rasa khas yang tidak dimiliki kakao dari daerah lain. Kakao Jembrana telah diekspor ke Belanda dan Belgia, dua negara yang dikenal sebagai pusat cokelat dunia.
Baca Juga: Rahasia Pakar Harvard Tiga Kata Kunci Membentuk Emosi Sehat Pada Anak
Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama kelompok tani kakao yang rutin memberikan pelatihan dan pendampingan. Beberapa koperasi bahkan menjalin kemitraan langsung dengan pembeli internasional sehingga harga kakao Bali bisa lebih stabil. Tidak hanya biji kakao mentah, produk olahan seperti cokelat batangan, bubuk kakao, dan minuman cokelat kini mulai dipasarkan, membuka peluang bagi UMKM lokal untuk naik kelas.
Namun, tantangan tetap ada. Hama tanaman, fluktuasi iklim, dan keterbatasan teknologi pascapanen masih menjadi kendala. Meski begitu, semangat petani Jembrana terus terjaga karena mereka percaya kakao bukan hanya komoditas, tetapi juga warisan yang dapat membawa nama Bali ke kancah internasional. Dukungan promosi pariwisata agro, festival cokelat, dan inovasi produk menjadi jalan untuk menjaga eksistensi kakao Bali di mata dunia.
Kakao Jembrana membuktikan bahwa Pulau Dewata tidak hanya menawarkan wisata, tetapi juga menyimpan potensi hasil bumi yang mampu bersaing di pasar global. Dari tangan petani lokal, butiran kakao berubah menjadi cita rasa manis yang menghubungkan Bali dengan pecinta cokelat di berbagai negara.***