Bali in Your Hands - Hujan deras awal September mengubah Bali menjadi pulau dengan wajah muram. Sungai meluap, rumah hanyut, dan jalan terputus. Peristiwa itu bukan sekadar akibat curah hujan ekstrem, melainkan cermin dari rapuhnya daya dukung ekologis. Hutan yang menyusut, sungai yang menyempit, dan lahan resapan yang hilang membuat air kehilangan jalannya. Bali kini hidup dalam bayang-bayang ancaman ganda: banjir di musim hujan dan krisis air bersih saat kemarau.
Baca Juga: Resto Baru Di Ubud Bangkitkan Semangat Kuliner Pasca Banjir
Di daerah aliran sungai Ayung, tutupan hutan hanya tersisa tiga persen, jauh dari syarat minimal tiga puluh persen untuk menjaga keseimbangan hidrologi. Air hujan tak lagi meresap perlahan, tetapi mengalir deras membawa lumpur dan sampah ke hilir. Sungai yang mestinya menjadi sahabat berubah menjadi ancaman dalam hitungan jam. Kondisi ini diperburuk oleh alih fungsi lahan yang terus terjadi. Sawah beralih menjadi vila, perkebunan berubah jadi perumahan, dan ruang terbuka hijau semakin terdesak.
Baca Juga: Lumpur Sungai Bali Jadi Sorotan BWS Setelah Banjir Terburuk Tahun Ini
Pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi justru menjadi salah satu beban terberat ekosistem Bali. Ribuan vila dan hotel dengan sumur bor dalam serta kolam renang membuat muka air tanah terus menyusut. Intrusi air laut pun merambah daerah wisata, menjadikan air payau dan sulit diakses warga. Ironisnya, ketika hujan deras datang, drainase perkotaan tak mampu menahan debit air. Air kemudian merangsek ke permukiman, sawah, hingga jalan raya, meninggalkan jejak kerusakan.
Peraturan perlindungan sumber daya air memang ada, tetapi lemahnya pengawasan membuat implementasi jauh dari nyata. Krisis air di Bali bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini. Pulau ini membutuhkan rehabilitasi hutan hulu, pemulihan bantaran sungai, serta tata ruang yang berani menahan ekspansi vila dan hotel. Setiap tetes hujan seharusnya menjadi berkah, bukan malapetaka. Bali hanya bisa kembali seimbang bila air, tanah, dan alam dihormati sebagai fondasi kehidupan, bukan sekadar ruang eksploitasi.***