• Sabtu, 18 April 2026

Apa yang Dimaksud dengan Fesyen Berkelanjutan dan Mengapa Hal Itu Penting

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Selasa, 9 September 2025 | 17:30 WIB
Slow fashion makin menjadi tren (Canva/PhotoApp)
Slow fashion makin menjadi tren (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Industri fesyen selama beberapa dekade terakhir berkembang pesat menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia. Namun, di balik kilauan catwalk dan tren yang berganti begitu cepat, tersembunyi jejak lingkungan dan sosial yang cukup serius.

Inilah yang kemudian melahirkan istilah fesyen berkelanjutan (sustainable fashion), sebuah konsep yang semakin banyak diperbincangkan dan dianggap penting, baik oleh desainer, konsumen, maupun pelaku industri.

Apa Itu Fesyen Berkelanjutan?

Secara sederhana, fesyen berkelanjutan adalah pendekatan dalam mendesain, memproduksi, hingga mengonsumsi pakaian dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Baca Juga: Cara Melakukan Mystery Shopping untuk Menjaga dan Meningkatkan Kualitas Layanan

Konsep ini mencakup berbagai aspek: mulai dari pemilihan bahan yang ramah lingkungan (misalnya katun organik, linen, serat daur ulang), proses produksi yang etis, hingga memastikan pekerja di rantai pasok mendapatkan upah yang layak dan kondisi kerja yang manusiawi.

Tidak berhenti di sana, fesyen berkelanjutan juga mendorong konsumen untuk lebih bijak dalam membeli pakaian. Alih-alih mengikuti arus fast fashion yang mendorong belanja berlebihan, fesyen berkelanjutan menekankan pentingnya membeli lebih sedikit namun lebih berkualitas, serta merawat dan menggunakan pakaian lebih lama.

Mengapa Penting?

Industri fesyen menyumbang sekitar 10% dari emisi karbon global dan menjadi salah satu penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia. Data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa sekitar 85% tekstil berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya. Angka ini memperlihatkan betapa mendesaknya perubahan pola produksi dan konsumsi fesyen.

Baca Juga: Kerajinan Anyaman Lontar Di Gianyar Menjadi Produk UMKM Yang Diminati Wisatawan

Selain aspek lingkungan, ada pula sisi sosial yang tidak kalah penting. Banyak pabrik di negara berkembang masih mempekerjakan buruh dengan upah minim, jam kerja berlebihan, bahkan dalam kondisi tidak aman.

Tragedi runtuhnya gedung Rana Plaza di Bangladesh tahun 2013 menjadi pengingat keras bahwa di balik pakaian murah, sering kali ada harga yang dibayar mahal oleh para pekerja.

Tren dan Gerakan Global

Kesadaran ini melahirkan berbagai gerakan dan label yang mengedepankan fesyen berkelanjutan. Merek-merek global mulai meluncurkan lini produk ramah lingkungan, sementara UMKM dan desainer lokal juga banyak yang berfokus pada bahan alami dan praktik produksi etis. Di Indonesia, muncul pula inisiatif yang menghubungkan fesyen dengan pemberdayaan komunitas, seperti pemanfaatan tenun tradisional dan batik dalam konteks modern yang tetap menghargai pengrajin.

Selain itu, konsumen muda—khususnya Gen Z—menjadi motor penggerak penting. Mereka cenderung lebih kritis terhadap asal-usul produk yang dibeli dan mendukung merek yang memiliki nilai keberlanjutan.

Bagaimana Kita Bisa Berkontribusi?

Sebagai konsumen, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan: membeli pakaian berkualitas dan tahan lama, memperbaiki alih-alih langsung membuang, hingga mencoba thrifting atau belanja barang bekas. Bagi pelaku usaha, transparansi dalam rantai pasok dan komitmen pada praktik ramah lingkungan menjadi kunci untuk mendapatkan kepercayaan pasar yang semakin peduli pada isu keberlanjutan.

Fesyen berkelanjutan bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari upaya global untuk menjaga bumi dan menciptakan industri yang lebih adil. Dengan memilih untuk peduli, baik sebagai produsen maupun konsumen, kita turut serta menjahit masa depan yang lebih baik—bukan hanya untuk dunia fesyen, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X