• Sabtu, 18 April 2026

Tantangan dan Suka Duka Mendirikan Komunitas di Indonesia Timur dan Tengah

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Kamis, 18 September 2025 | 10:00 WIB
Tampak pendiri komunitas perempuan Indonesia Tengah dan Timur serta Jakarta berpose bersama saat SheHacks Bootcamp PaPeDa 2025 (Image/DitaSuryo)
Tampak pendiri komunitas perempuan Indonesia Tengah dan Timur serta Jakarta berpose bersama saat SheHacks Bootcamp PaPeDa 2025 (Image/DitaSuryo)

Baliinyourhands.com - Membangun komunitas di Indonesia, khususnya di wilayah timur dan tengah, bukanlah perkara mudah. Di balik semangat kebersamaan dan tujuan mulia yang ingin dicapai, ada banyak tantangan yang kerap dihadapi para pendirinya.

Dari soal komitmen anggota, keterbatasan logistik, hingga benturan dengan budaya patriarki yang masih mengakar, semuanya menjadi warna dalam perjalanan membangun ruang bersama.

Komitmen dan Keterbatasan Logistik

Salah satu tantangan utama adalah menjaga komitmen peserta terhadap program atau kegiatan komunitas. Banyak inisiatif yang lahir dari niat baik, tetapi terkadang terhambat ketika anggota kesulitan untuk hadir secara konsisten. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh faktor logistik, seperti keterbatasan biaya transportasi atau fasilitas pendukung.

Baca Juga: Cara Membuat Laporan dan Komunikasi Efektif dengan Komparasi, Analogi, dan Storytelling

“Komitmen peserta akan program atau kegiatan menjadi salah satu tantangan, apalagi bila tidak ditunjang dengan logistik yang mumpuni seperti uang transport dan semacamnya,” ujar Raquela Sanggenafa, penggerak komunitas Manibobi_preneurs.

Menurutnya, semangat kebersamaan memang ada, tetapi keberlanjutan kegiatan membutuhkan dukungan nyata agar anggota bisa berpartisipasi tanpa terbebani kendala praktis.

Budaya Patriarki yang Masih Kuat

Di sisi lain, tantangan yang bersifat lebih struktural muncul dari norma sosial yang masih mengakar, khususnya di daerah pedesaan. Monika Nahak, pendiri Forum Perempuan Desa Toinaku, menyoroti beratnya melawan budaya patriarki yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat terasa dampaknya.

Baca Juga: Strategi Efektif Mencari Kemitraan dan Sponsor untuk Program Berkelanjutan

“Seringkali perempuan menjadi warga kelas dua dan dianggap hanya mampu serta memiliki kewajiban mengurus rumah tangga saja, seperti memasak, mengurus anak, dan lain-lain,” ungkapnya.

Pandangan ini membuat ruang gerak perempuan dalam komunitas terbatas. Untuk melibatkan perempuan secara aktif, perlu kerja ekstra agar masyarakat bisa melihat peran mereka bukan hanya di ranah domestik, tetapi juga dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Monika menambahkan, perubahan paradigma ini membutuhkan waktu, kesabaran, serta konsistensi dalam memberikan teladan.

Antara Tantangan dan Harapan

Meski penuh tantangan, pengalaman mendirikan komunitas juga membawa suka cita tersendiri. Banyak pendiri komunitas menemukan kepuasan ketika melihat anggotanya bertumbuh, saling mendukung, dan menciptakan perubahan kecil namun berarti. Kegiatan sederhana seperti pertemuan rutin, pelatihan, atau sekadar ruang diskusi bisa menjadi penguat rasa kebersamaan.

Topik ini mencuat dalam ajang Top 15 SheHacks Bootcamp PaPeDa 2025 yang digelar pada 15 September lalu. Forum tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman antar-penggerak komunitas, sekaligus ruang refleksi bahwa perjuangan mereka bukanlah upaya yang berdiri sendiri.

Ada semangat kolektif yang terus mendorong agar komunitas di wilayah timur dan tengah tetap tumbuh, meskipun jalannya berliku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Pengalaman pribadi dan liputan langsung

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X