• Sabtu, 18 April 2026

Apa itu Psikologi Marketing Terselubung? Kuasai Agar Penjualan Produk Kamu Tambah Cuan!

Photo Author
Myrna Soeryo, BaliInYourHands.com
- Jumat, 14 Februari 2025 | 14:00 WIB
Menggelar diskon bisa menjadi pemasaran memakai psikologi yang menarik (pexels/markuspike)
Menggelar diskon bisa menjadi pemasaran memakai psikologi yang menarik (pexels/markuspike)

Baliinyourhands.com - Sederhananya, ini adalah teknik-teknik pemasaran yang memanfaatkan prinsip-prinsip psikologi untuk memengaruhi perilaku konsumen tanpa mereka sadari sepenuhnya. Tujuannya adalah untuk "memikat" hatimu dan mendorongmu untuk melakukan pembelian.

Mengapa "Terselubung"?

Karena teknik-teknik ini bekerja di bawah ambang kesadaranmu. Kamu tidak menyadari bahwa keputusanmu dipengaruhi oleh trik psikologis tertentu.

Dengan memahami teknik psikologi marketing terselubung, Anda dapat meningkatkan penjualan, membangun loyalitas pelanggan, dan mencapai kesuksesan pemasaran yang lebih besar.

Baca Juga: Rekomendasi Hotel di Kuta dan Seminyak untuk Merayakan Hari Valentine

Mari kita telusuri beberapa teknik yang paling efektif, dilansir dari Instagram id.seedbacklink

  1. Scarcity (Kelangkaan): Teknik ini memanfaatkan prinsip bahwa sesuatu yang langka akan terasa lebih bernilai di mata kamu. Dengan menciptakan kesan bahwa suatu produk atau penawaran memiliki jumlah terbatas atau hanya tersedia dalam waktu singkat, konsumen akan merasa takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO) dan terdorong untuk segera membeli.
  2. Anchoring (Jangkar): Teknik ini bekerja dengan cara memberikan informasi awal yang berfungsi sebagai "jangkar" atau patokan bagi kamu dalam membuat keputusan. Misalnya, menampilkan harga yang lebih tinggi terlebih dahulu sebelum menawarkan harga yang sebenarnya. Harga yang lebih tinggi ini menjadi jangkar, membuat harga yang sebenarnya terlihat lebih murah dan menarik bagi kamu.
  3. Framing (Pembingkaian): Teknik ini menekankan pada cara penyampaian informasi yang dapat mempengaruhi persepsi kamu dan keputusan kamu. Contohnya, alih-alih mengatakan produk mengandung 80% lemak, dikatakan mengandung hanya 20% lemak. Kedua pernyataan ini sama-sama benar, tetapi penyampaiannya berbeda dan dapat mempengaruhi persepsi kamu.
  4. Choice Overload (Terlalu Banyak Pilihan): Terlalu banyak pilihan justru dapat membuat kamu merasa kewalahan dan sulit untuk membuat keputusan. Akibatnya, kamu bisa jadi tidak jadi membeli sama sekali. Teknik ini mengingatkan pemasar untuk tidak memberikan terlalu banyak pilihan kepada konsumen.
  5. Social Proof (Bukti Sosial): Teknik ini memanfaatkan kecenderungan manusia untuk mengikuti tindakan orang lain, terutama dalam situasi yang tidak pasti. Dengan menampilkan testimoni positif dari pelanggan lain atau menunjukkan bahwa banyak orang yang menggunakan produk atau jasa tersebut, kamu akan merasa lebih yakin dan percaya untuk membeli.
  6. Loss Aversion (Keengganan Rugi): Manusia cenderung lebih termotivasi untuk menghindari kerugian daripada mendapatkan keuntungan yang sama besar. Teknik ini memanfaatkan hal ini dengan menekankan potensi kerugian yang akan kamu alami jika tidak membeli produk atau jasa yang ditawarkan
  7. Discount (Diskon): Diskon adalah strategi klasik yang selalu efektif menarik perhatian kamu. Diskon memberikan kesan bahwa kamu mendapatkan nilai yang lebih baik untuk uang kamu, sehingga mendorong kamu untuk segera melakukan pembelian.

Brand-brand besar dunia tidak hanya mengandalkan iklan yang menarik. Mereka juga memanfaatkan kekuatan psikologi marketing untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Baca Juga: Saat-Saat Unik Ketika Puasa Ramadhan Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali

Mari kita intip bagaimana mereka melakukannya melalui beberapa contoh berikut ini:

  1. Scarcity (Kelangkaan): Starbucks menciptakan kesan langka pada produknya (minuman dan merchandise limited edition) untuk memicu FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan pada kamu, sehingga mendorong kamu untuk segera membeli.
  2. Anchoring (Jangkar): Shopee menampilkan harga awal yang lebih tinggi sebelum diskon untuk memberikan kesan bahwa kamu telah berhemat banyak, sehingga pembelian terasa lebih menguntungkan bagi kamu.
  3. Framing (Pembingkaian): Lifebuoy menggunakan kalimat yang terpercaya dan spesifik untuk meyakinkan kamu tentang kualitas dan manfaat produknya.
  4. Choice Overload (Terlalu Banyak Pilihan): Netflix mengatasi masalah terlalu banyak pilihan dengan menampilkan "Top 10" film, sehingga memudahkan kamu dalam memilih tontonan.
  5. Social Proof (Bukti Sosial): Tokopedia menampilkan jumlah penjualan dan ulasan produk untuk meyakinkan kamu yang masih ragu atau bingung.
  6. Loss Aversion (Keengganan Rugi): Yellow Fit Kitchen menawarkan garansi uang kembali jika berat badan tidak turun, sehingga mengurangi risiko yang dirasakan kamu dan mendorong kamu untuk mencoba produk tersebut.

Psikologi marketing adalah alat yang ampuh jika digunakan dengan tepat. Dengan memahami prinsip-prinsipnya, Anda dapat membangun brand yang lebih kuat, meningkatkan penjualan, dan menciptakan hubungan yang lebih baik dengan konsumen.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Myrna Soeryo

Sumber: Instagram

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X