umkm-bali

Strategi Menghadapi Rekan Bisnis yang Ingin Exit: 7 Langkah Cerdas Lindungi Kepentingan Usaha

Minggu, 6 Juli 2025 | 19:00 WIB
Ada 7 cara yang bisa dilakukan bila salah satu pemegang saham akan melakukan exit (Canva/PhotoApp)

Baliinyourhands.com - Ketika membangun bisnis bersama, setiap mitra punya tujuan dan dinamika masing-masing. Namun, bagaimana jika salah satu dari mereka—yang juga pemilik saham—memutuskan untuk melakukan exit strategy alias keluar dari kepemilikan bisnis?

Situasi ini bisa menjadi titik krusial yang menentukan arah masa depan usaha, terutama jika tidak ditangani dengan cermat.

Di dunia bisnis, exit strategy bukanlah hal yang asing. Bisa jadi karena pergeseran visi, kebutuhan finansial pribadi, atau ingin fokus ke peluang usaha lain. Apa pun alasannya, penting bagi mitra yang tersisa untuk memahami langkah-langkah strategis dalam menyikapi keputusan ini secara profesional dan legal.

Baca Juga: Dari Seprai Bekas Jadi Tas Belanja dan Kemeja Trendy: Daur Ulang Ramah Lingkungan yang Sedang Naik Daun

1. Tinjau Perjanjian Awal (Shareholders Agreement)

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka kembali dokumen perjanjian awal, terutama shareholders agreement atau perjanjian pemegang saham. Di dalamnya, biasanya telah diatur hak dan kewajiban masing-masing pihak termasuk klausul mengenai mekanisme pelepasan saham, valuasi, hak first refusal (hak penolakan pertama), dan ketentuan transfer saham kepada pihak ketiga.

Jika tidak ada perjanjian tertulis, situasinya akan lebih kompleks. Namun bukan berarti tidak ada solusi. Diskusi terbuka dan melibatkan konsultan hukum menjadi sangat penting dalam kasus ini.

2. Lakukan Penilaian Nilai Saham secara Objektif

Menentukan nilai wajar dari saham yang akan dijual adalah proses krusial. Idealnya, dilakukan oleh penilai independen yang berpengalaman. Tujuannya agar tidak ada pihak yang dirugikan dan proses berjalan transparan. Metode penilaian bisa menggunakan pendekatan aset, pendapatan, atau market value tergantung karakter bisnis dan kesepakatan semua pihak.

Baca Juga: Chewchew Kopi Tiam Kuta: Surga Canai Kekinian dengan Es Teh Tarik dan Kopi Butter yang Menggoda

3. Evaluasi Opsi Pembelian Internal

Sebelum saham dijual ke pihak luar, biasanya pemegang saham lain memiliki prioritas untuk membeli—mekanisme ini disebut right of first refusal. Ini penting untuk mencegah masuknya pihak asing yang bisa mengganggu arah kebijakan atau budaya perusahaan.

Jika mitra yang tersisa ingin melanjutkan tanpa menambah beban pribadi, opsi pembelian saham oleh perusahaan (buyback) atau karyawan (ESOP – Employee Stock Ownership Plan) bisa menjadi alternatif yang layak dikaji.

4. Komunikasikan Secara Terbuka dengan Tim Internal

Proses exit partner seringkali menimbulkan spekulasi di internal tim, terutama bila mitra yang keluar memiliki peran sentral. Dalam hal ini, komunikasi terbuka dan jujur menjadi krusial. Hindari menutup-nutupi, tapi tetap jaga informasi sensitif yang belum final. Tujuannya adalah menjaga stabilitas operasional dan kepercayaan tim terhadap masa depan perusahaan.

5. Siapkan Transisi Operasional

Jika mitra yang keluar memegang fungsi penting dalam operasional, maka rencana transisi harus disiapkan. Mulai dari alih tanggung jawab, dokumentasi pekerjaan, hingga pelatihan bagi penerus. Hal ini untuk mencegah gangguan kinerja saat perpindahan kepemimpinan terjadi.

6. Konsultasi dengan Profesional

Melibatkan profesional seperti konsultan bisnis, akuntan, dan pengacara adalah langkah bijak. Mereka dapat membantu merumuskan strategi terbaik, menghindari potensi konflik, dan memastikan semua proses sesuai hukum yang berlaku.

“Ketika salah satu pemilik saham memutuskan untuk keluar, itu bukan akhir dunia. Justru ini bisa menjadi momentum evaluasi dan penyegaran arah bisnis, selama dijalankan dengan profesionalisme dan keterbukaan,” ujar Andreas Halim, Managing Partner dari firma konsultan bisnis strategis di Jakarta.

Halaman:

Tags

Terkini