Baliinyourhands.com - Menikmati makanan enak di Bali bukanlah hal sulit. Dari masakan Prancis, Italia, sampai Jepang, semuanya tersedia dengan kualitas top. Tapi untuk menemukan cita rasa asli Bali di luar warung-warung kecil di pinggir jalan?
Nah, itu cerita lain. Tapi sekarang, perlahan mulai berubah. Para koki lokal mulai menggali kembali resep warisan leluhur dan meraciknya dengan sentuhan kreatif masa kini.
“Banyak juru masak yang sekarang justru lebih lihai bikin pasta atau beef bourguignon daripada masakan rumah yang mereka makan sejak kecil,” ungkap Wayan Kresna Yasa, koki sekaligus penulis buku Paon: Real Balinese Cooking.
Pada tahun 2021, Wayan membuka Home by Chef Wayan di kawasan pantai Pererenan yang sedang naik daun. Di sana, kamu bisa mencicipi menu khas seperti ledok nusa, bubur gurih dengan ikan tuna, sambal, dan jagung manis, serta ayam srosop, ayam panggang dalam kuah kelapa berbumbu. “Menu saya adalah cerminan dari makanan sehari-hari orang Bali,” katanya.
Di sisi utara pulau, tepatnya di desa Les, seorang pendeta adat sekaligus koki bernama Jero Mangku Dalem Suci Gede Yudiawan juga memutuskan untuk kembali ke akar budaya. Tahun 2022, ia membuka Dapur Bali Mula, restoran donasi di halaman belakang rumahnya.
Di sana, kamu bisa menikmati sajian khas seperti lawar gurita (campuran kelapa parut dan sayuran) dan sate lilit ikan yang dimasak di atas bara sabut kelapa, dengan bumbu laut dan minyak kelapa buatan sendiri dari kebun pribadinya. Semua diolah dengan cara tradisional, persis seperti yang dilakukan leluhurnya sejak dulu.
Tak hanya soal makanan, Yudiawan juga membuat arak sendiri—minuman khas Bali dari fermentasi nira. Hasil distilasinya dijual ke beberapa bar, termasuk Kawi di Ubud. Di sini, arak diracik jadi koktail unik dengan campuran air kelapa, sambal tomat, dan kunyit.
Arak juga jadi bintang utama di Telu, bar terbuka bergaya taman herbal di Four Seasons Resort Bali, Jimbaran Bay. Telu punya ruang penyimpanan khusus arak dari berbagai penjuru Bali. Menariknya, lebih dari 80% bahan yang digunakan berasal dari dalam negeri—bahkan termasuk madu dari sarang lebah milik resort itu sendiri.
Kalau kamu suka tempat yang unik dan ramah lingkungan, mampirlah ke Ijen, restoran di dalam kompleks Desa Potato Head, Seminyak. Ijen jadi pionir dalam praktik zero waste alias minim limbah.
Baca Juga: Teknik Cupping: Rahasia Menilai Kualitas Kopi Seperti Seorang Ahli
Mereka hanya pakai ikan hasil tangkapan ramah lingkungan dan memanfaatkan sisik ikan sisa sebagai bumbu kerupuk beras. Piring dan gelasnya pun dibuat dari bahan daur ulang, seperti pecahan kaca dan tutup botol plastik.
Untuk pengalaman kuliner yang benar-benar beda, kamu wajib coba Locavore NXT di Ubud. Restoran fine-dining yang baru buka Desember lalu ini benar-benar totalitas. Mereka menanam bahan-bahan masakannya sendiri, mulai dari ruang jamur bawah tanah sampai “hutan pangan” di atap bangunan.