weekly-bali

Pesona Galungan dan Kuningan di Penglipuran: Tradisi Suci di Tengah Desa Tercantik Bali

Rabu, 23 April 2025 | 17:00 WIB
Desa wisata Penglipuran menjadi salah satu destinasi wisata populer turis (Website/Trava.id)

Baliinyourhands.com - Di antara hijaunya hamparan bambu dan jejeran rumah adat yang tertata rapi, Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli tak hanya memanjakan mata, tetapi juga jiwa.

Setiap enam bulan sekali menurut kalender Bali, desa ini berubah menjadi panggung megah budaya dalam perayaan Galungan dan Kuningan—dua hari suci yang menjadi puncak spiritual masyarakat Hindu Bali.

Desa Penglipuran dikenal sebagai salah satu desa wisata terindah di dunia. Kebersihannya, arsitektur tradisional yang tetap lestari, dan kearifan lokal warganya membuat tempat ini tak hanya jadi destinasi wisata, tapi juga simbol harmoni dan spiritualitas Bali. Ketika Galungan tiba, desa ini terasa seperti melangkah ke halaman sebuah kisah kuno yang hidup.

Baca Juga: Mengenal Barong: Penjaga Sakral Bali yang Hadir di Hari Raya Kuningan

Makna Galungan dan Kuningan

Galungan menandai kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Ini adalah saat di mana para leluhur dipercaya turun ke bumi untuk diberi penghormatan oleh keturunannya.

Sepuluh hari setelahnya, Kuningan menjadi penutup rangkaian upacara, di mana roh para leluhur kembali ke alamnya. Dalam masa ini, Penglipuran menjadi surga kecil yang dipenuhi aroma dupa, taburan bunga, dan gemerlap warna dari kain-kain tradisional.

Penjor dan Jalan Menuju Surga

Satu hal yang paling mencolok saat Galungan adalah deretan penjor—bambu melengkung tinggi yang dihias janur, buah-buahan, dan simbol-simbol religius. Di Penglipuran, setiap rumah wajib memasang penjor dengan penuh ketelitian dan keindahan.

Baca Juga: Tampak Siring: Jejak Kaki Dewa, Air Suci, dan Bayang-Bayang Mayadenawa

Penjor tak hanya sekadar ornamen; ia adalah lambang gunung, tempat bersemayamnya para dewa. Berjalan di sepanjang jalan utama desa saat Galungan terasa seperti melintasi lorong menuju alam spiritual yang tenang dan sakral.

Tradisi yang Dihidupkan, Bukan Sekadar Ditampilkan

Tidak seperti perayaan budaya di tempat wisata lain yang sering kali bersifat seremonial bagi wisatawan, Galungan dan Kuningan di Penglipuran adalah praktik hidup. Upacara dilangsungkan dengan khidmat, bukan pertunjukan.

Para ibu menyiapkan banten atau sesajen sejak subuh, anak-anak berpakaian adat mengikuti orang tua mereka ke pura keluarga, dan kaum pria memukul gamelan sambil melantunkan kidung suci.

Baca Juga: Mengungkap Tirta Empul: Pemandian Suci Bali yang Terkait Legenda Dewa Indra dan Raja Mayadenawa

Para wisatawan yang datang pun diimbau untuk menghormati prosesinya. Di sinilah letak keistimewaan Penglipuran—ia tidak berubah demi wisata, melainkan mengajak pengunjung untuk menyelami makna budaya yang sebenarnya.

Kuliner dan Kehangatan Keluarga

Galungan juga identik dengan sajian khas seperti lawar, urutan, dan nasi sela. Di Penglipuran, banyak keluarga membuka pintu rumahnya untuk berbagi makanan dengan tetangga dan kadang dengan pengunjung yang datang membawa rasa hormat. Nuansa kekeluargaan begitu terasa, mengingatkan bahwa inti dari Galungan bukan hanya soal ritual, tetapi juga menyatukan hati dan semangat gotong royong.

Halaman:

Tags

Terkini