Bali In Your Hands - Di balik lanskap hijau dan terasering sawah yang menakjubkan, Tegalalang, Gianyar, menyimpan sebuah ritual unik yang tak banyak diketahui wisatawan.
Setiap tahun, ratusan anak-anak turun ke jalan dengan tubuh penuh corat-coret dan wajah tertutup topeng dari daun pisang.
Baca Juga: Skandal Besar Kim Soo-hyun! Potensi Denda Ratusan Miliar Usai Dikaitkan dengan Mendiang Kim Sae-ron
Mereka berlarian, menari, dan berteriak dalam tradisi sakral yang dikenal sebagai Ngerebeg. Ritual ini bukan sekadar permainan anak-anak, melainkan sebuah upacara spiritual yang diyakini mampu menolak bala dan membersihkan desa dari energi negatif.
Ngerebeg adalah tradisi turun-temurun yang digelar menjelang piodalan (hari suci) di Pura Duur Bingin, Desa Tegalalang.
Dalam ritual ini, anak-anak dihias dengan warna-warna mencolok dari bubuk beras atau arang, lalu mengenakan topeng sederhana yang terbuat dari daun pisang.
Mereka berjalan beriringan, mengelilingi desa sambil berseru-seru, seolah mengusir roh jahat yang mengintai ketentraman warga.
Masyarakat percaya bahwa suara riuh dan penampilan menyeramkan ini akan menakut-nakuti makhluk tak kasatmata yang membawa kesialan.
Baca Juga: Rahasia Spa Bali Kuno Terapi Pijat yang Diklaim Bisa Sembuhkan Trauma, Mitos atau Fakta?
Topeng daun pisang yang dikenakan anak-anak bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna filosofis yang dalam. Daun pisang dalam budaya Bali melambangkan kesuburan dan perlindungan.
Selain itu, daun pisang yang mudah didapat dan cepat layu juga menjadi simbol kefanaan hidup, mengingatkan manusia untuk selalu rendah hati dan berserah diri pada alam.
Kombinasi corat-coret warna-warni dan topeng sederhana ini menciptakan visual yang kontras menyeramkan sekaligus penuh keceriaan.
Meski terlihat sederhana, Ngerebeg bukan sekadar aksi spontan. Ritual ini memiliki serangkaian tahapan yang harus dijalani.
Anak-anak terlebih dahulu mengikuti prosesi doa di pura, meminta restu agar kegiatan berjalan lancar.