• Sabtu, 18 April 2026

Ogoh-Ogoh dari Ritual Sakral ke Ikon Kreativitas Ramah Lingkungan di Era Modern

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Jumat, 10 Januari 2025 | 21:40 WIB
Festival Ogoh Ogoh 2025 (Veronica Ellen)
Festival Ogoh Ogoh 2025 (Veronica Ellen)

Bali In Your Hands - Dalam setiap sudut Bali, tradisi dan budaya menyatu erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah Ogoh-Ogoh, patung besar berwujud makhluk mitologis yang menjadi simbol energi negatif yang akan disucikan menjelang Hari Raya Nyepi Namun, di Tabanan, tradisi ini kini berkembang menjadi lebih dari sekadar ritual.  

Melalui Festival Ogoh-Ogoh Singasana #2, Tabanan tidak hanya menjaga tradisi leluhur tetapi juga menjadikannya medium untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam hal inovasi seni dan kepedulian terhadap lingkungan. Ajang ini menampilkan bagaimana nilai-nilai kearifan lokal dapat diterjemahkan ke dalam karya seni yang modern tanpa kehilangan esensi spiritualnya. 

Baca Juga: Mengintip Keunikan Desa Trunyan: Wisata Budaya dan Tradisi Mistis di Bali

Salah satu hal yang menarik dari festival ini adalah penggunaan bahan ramah lingkungan dalam pembuatan ogoh-ogoh. Jika dahulu patung-patung ini sering dibuat dari bahan styrofoam atau plastik yang sulit terurai, kini para seniman di Tabanan memanfaatkan bambu, kertas daur ulang, dan bahan organik lainnya.  

“Kami ingin ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol budaya tetapi juga cerminan dari kepedulian kita terhadap alam,” ujar Ni Wayan Suciati, Kepala Bidang Adat Istiadat Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan. Inisiatif ini menjadi jawaban atas meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Festival ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas, melainkan bisa saling melengkapi. 

Salah satu inovasi lain dalam Festival Ogoh-Ogoh Singasana adalah adanya pawai ogoh-ogoh mini yang melibatkan anak-anak. Tidak hanya sebagai sarana memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya kreativitas yang berkelanjutan. Melalui workshop pembuatan ogoh-ogoh mini yang sering diadakan sebelum festival, anak-anak diajarkan untuk memanfaatkan barang-barang bekas seperti kardus, kain perca, dan dedaunan kering. "Anak-anak tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga bagaimana mencintai lingkungan sejak dini," tambah Suciati. 

Festival ini juga dirancang agar inklusif dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dengan peserta yang mewakili setiap kecamatan di Tabanan, proses seleksi dilakukan secara unik di masing-masing wilayah. Beberapa kecamatan memilih peserta melalui seleksi ketat, sementara yang lain menggunakan sistem rotasi. 

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Budaya di Bali Sarat Makna Yang Harus Kamu Kunjungi Saat Liburan Akhir Tahun 2024 

Hal ini menciptakan dinamika kompetisi yang menarik. “Kami ingin semua kecamatan merasakan dampak positif dari festival ini. Tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga kebanggaan kolektif sebagai penjaga tradisi,” kata Suciati. 

Festival ini juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Dengan alokasi dana pembinaan sebesar Rp30 juta untuk setiap peserta, serta hadiah total Rp140 juta bagi para pemenang, festival ini mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama para pengrajin lokal. 

Selain itu, festival ini menarik wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan bagaimana tradisi Bali dikemas dengan sentuhan modern. "Ogoh-ogoh kini bukan hanya milik masyarakat Bali, tetapi sudah menjadi daya tarik internasional," ujar salah satu seniman lokal. 

Menariknya, beberapa peserta festival tahun ini mulai memanfaatkan teknologi dalam proses pembuatan ogoh-ogoh. Dari desain 3D untuk merancang struktur hingga pencahayaan LED yang ramah lingkungan, seni tradisional ini kini bertransformasi menjadi seni multimedia. 

Namun, inovasi ini tidak mengurangi esensi sakral ogoh-ogoh. Setiap elemen tetap dibuat dengan memperhatikan nilai-nilai spiritual dan filosofi Hindu Bali. “Kami percaya bahwa teknologi dapat menjadi alat, bukan pengganti, dalam melestarikan budaya,” kata salah satu peserta festival. 

Festival Ogoh-Ogoh Singasana tidak hanya berbicara tentang seni dan tradisi, tetapi juga tentang harapan dan persatuan. Dalam proses pembuatan ogoh-ogoh, masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu, saling mendukung, dan menciptakan karya bersama. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Google

Tags

Terkini

3 Rekomendasi Rasa Italia Harga Warung Di Denpasar

Sabtu, 11 April 2026 | 20:18 WIB
X