Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan lembaga terkait untuk mencapai target pengurangan emisi dan pelestarian hutan.
Namun, tantangan tetap ada. Pengaruh industri pariwisata dan perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi kelestarian hutan dan laut di Bali.
Oleh karena itu, penguatan dan adaptasi awig-awig menjadi krusial. Masyarakat adat perlu terus memperbarui aturan mereka sesuai dengan dinamika zaman tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan.
Selain itu, edukasi kepada generasi muda tentang pentingnya awig-awig dan pelestarian lingkungan harus ditingkatkan.
Dengan demikian, mereka dapat memahami dan melanjutkan tradisi ini, memastikan bahwa kearifan lokal tetap relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan masa kini.
Peran masyarakat adat Bali dalam menjaga hutan dan laut melalui awig-awig adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi efektif dalam konservasi lingkungan.
Dengan memadukan tradisi dan adaptasi terhadap perubahan, mereka menunjukkan bahwa pelestarian alam dan budaya dapat berjalan beriringan, memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus kesejahteraan komunitas.
Menurut filosofi Tri Hita Karana yang dianut masyarakat Bali: Harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Dengan menjaga keseimbangan ini, kita tidak hanya melestarikan lingkungan, tetapi juga memastikan keberlanjutan hidup bagi generasi mendatang.