Diawali dengan doa bersama, mereka semua berpakaian serba putih, bersenjatakan keris yang bergagang emas dan dihiasi berlian, para wanita mengenakan perhiasan dan wewangian terbaik mereka, memotong pendek rambut mereka, sebagian menggendong anak-anak yang masih bayi sambil membawa keris dan atau tombak pendek.
Setelah semua siap, rombongan pun berangkat dengan tenang menuju medan perang terakhir. Ketika tentara Belanda yang juga bergerak masuk menuju pusat kerajaan bertemu dengan rombongan Raja yang juga bergerak kearah mereka, pihak belanda sempat terkejut dan ragu karena iringan tersebut sangat terlihat megah lebih mirip iring-iringan seremoni daripada iring-iringan ekspedisi militer.
Berkali-kali perintah berhenti tidak diindahkan dan rombongan tersebut semakin mendekat, kemudian raja memekikkan “Puputan..!”, maka gelombang pertama serangan dimulai. Dalam serangan ini raja termasuk yang gugur, lalu diikuti oleh gelombang berikutnya yaitu para wanita, sebelum memulai serangan mereka melemparkan uang-uang emas dan berbagai permata berlian kearah pasukan Belanda.
Sambil berkata dengan hina “ inikah yang kalian cari kemari? Ambillah sebagai ongkos karena membunuh kami semua”, maka gelombang serangan kedua dimulai dan berakhir dengan gugurnya mereka semua bersama anak dan bayi mereka menyul para suami yang telah mendahului walaupun sempat menewaskan seorang perwira Belanda.
Baca Juga: 7 Tempat Makan Bebek Terbaik dan Populer di Bali
Saat pasukan Belanda mengira bahwa semua sudah usai, muncul kembali rombongan ketiga dan terakhir, dimana adik sang raja yang ketika itu baru berumur 12 tahun, dengan tombak panjang yang bahkan terlalu berat untuknya, memekikkan “puputan..!” dan memimpin serangan tersebut dan semuanya turut gugur terhormat.
Mereka yang selamat, memilih untuk menuruti permintaan terakhir dengan menikam rekan-rekan yang terluka, sebelum menghujamkan keris tersebut menyusul sang Raja, karena tidak mau menjadi tahanan Belanda. Sebagaimana kesaksian H. Fisscher Pastur belanda yang hadir sa’at itu sebagai almusenir dalam ekspedisi militer tersebut.
Belum pernah dalam sejarahnya belanda menang telak dalam perang tetapi memberikan hasil yang traumatis bagi pasukannya.
Demikian sekilas awal mula tentang berdirinya Monumen Puputan Badung sebagai Ikon bersejarah di bali. Jadi bagi pelancong yang ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang sejarah Bali, bisa berkunjung ke museum bali sambil menikmati udara segar taman kota, yang saat ini juga dijadikan tempat masyarakat Denpasar rekreasi dan berolah raga.
Artikel Terkait
Mengenal Tradisi Makan Megibung di Bali
Mengenal 7 Bagian dalam Ritual Melukat di Bali