Bali In Your Hands - Aroma asap berpadu rempah yang keluar dari panggangan membuat siapa pun menoleh ke arah warung kaki lima di pinggir jalan Bali.
Di atas bara, jejeran sate lilit mengepulkan uap gurih yang menggoda. Ini bukan sembarang sate, tapi warisan rasa yang berasal dari tradisi adat dan keluarga.
Sate lilit tak hanya makanan, tapi bagian dari upacara dan persembahan sakral yang menyatu dalam budaya. Intip cara membuatnya!
1. Daging cincang yang biasa menggunakan ikan tuna atau ayam, sate lilit dibumbui dengan racikan khas bernama base genep.
Campuran bumbu ini terdiri dari rempah lokal seperti
- Lengkuas
- Kunyit
- Kemiri
- Jahe
- Bawang Putih
- Bawang merah.
Baca Juga: Warung Sate Pak Landep Kesiman: Kuliner Legendaris dengan Harga Ramah Kantong Mulai Rp15 Ribuan
Dalam beberapa resep, tambahan kelapa parut dan gula aren memberi tekstur serta rasa manis gurih yang khas.
Semua bahan dicampur hingga adonan padat dan aromanya menyatu sempurna.
2. Proses melilit menjadi ciri utama yang membedakan sate ini dari lainnya. Adonan tidak ditusukkan, melainkan dililitkan ke batang pipih dari bambu, batang sereh, atau pelepah kelapa.
3. Proses ini butuh ketelatenan karena harus merata tanpa membuat adonan pecah saat dipanggang.
4. Saat dibakar, aroma dari batang sereh menyatu dengan bumbu sate dan menghasilkan rasa khas yang sulit dilupakan.
Baca Juga: Sate Babi Terenak di Batubulan? Coba Sate Babi Bu Nyoman yang Melejitkan Selera Lokal!
Sate lilit biasa disajikan bersama nasi hangat dan sambel matah, perpaduan yang mengguncang lidah.
Sate lilit khas Bali bukan hanya kuliner yang mengenyangkan, tetapi juga bagian dari cerita keluarga, budaya, dan ritual yang diwariskan turun-temurun.