Baliinyourhands.com - Bagi para pelancong yang juga penikmat wisata sejarah, Monumen ini sangat cocok masuk daftar kunjungan anda.
Berlokasi di jantung kota Denpasar, dikelilingi oleh taman Kota. Disini anda juga bisa mengunjungi Pura Jagatnatha dan Museum Bali yang terletak di sebelah timur Monumen.
Monumen Puputan Bagung berbentuk patung tiga individu, seorang Pria Dewasa Memegang tombak dan mengacungkan keris, seorang Perempuan Dewasa yang mengacungkan keris dan seorang anak pra remaja yang membawa tombak panjang.
Baca Juga: Tren Kreator 2025: 5 Tipe yang Paling Dibutuhkan
Puputan badung memiliki dua kata yaitu Puputan yang artinya habis atau selesai, Badung Adalah nama kerajaannya. Ini bermaksud bahwa Puputan Badung sebagai istilah untuk bertempur sampai titik darah penghabisan hingga selesai dengan kemenangan atau gugur semua demi harkat dan martabat kerajaan Badung.
Keunikan tersendiri dari monumen ini yang membedakan dengan monumen perjuangan lainnya adalah adanya seorang Perempuan dan Anak-anak pra remaja. Hal ini karena memang dalam sejarahnya para Perempuan dan anak-anak dari kaum ksatria ikut terlibat dalam pertempuran tidak seimbang ini.
Menurut catatan dari seorang peneliti keturunan mexico-amerika Miguel Covarrubias yang juga seorang seniman, dalam bukunya yang terbit tahun 1937 berjudul “ISLAND OF BALI” membahas dengan sangat detail perang ini.
Baca Juga: Bisnis Kok Memberikan Produk Gratis? Emang Nggak Rugi Tuh?
Perang Puputan badung terjadi pada 15 november dan berakhir pada 20 november 1906 dengan gugurnya sang raja I Gusti Ngurah Made Agung, yang merupakan raja Badung ke-7 yang memerintah kerajaan dari tahun 1902-1906 bersama seluruh pasukannya. Lokasi tepat terjadinya pertempuran puncak tersebut terjadi adalah di banjar Taensiat di sebelah utara monumen.
Awal mula konflik Badung-Belanda adalah tuduhan Belanda bahwa rakyat sanur telah menjarah Kapal dagang Sri komala yang terdampar karena badai di pantai sanur, dimana dalam salah satu tuntutannya bahwa raja badung harus membayar kompensasi sebesar 3000 ringgit.
Walaupun para saudagar dan rayat menyatakan siap urunan untuk membayar, akan tetapi Raja dengan ketus menolak karena dari hasil penyelidikan tidak ditemukannya bukti terjadinya penjarahan, dan sadar betul ini hanya akal-akalan Belanda untuk menguasai Badung.
Beliau menyatakan bahwa masalah ini bukan soal uang tapi masalah kebenaran, beliau tidak terima tuduhan yang mengada-ada terhadap rakyatnya.
Pada puncak peperangan ini Raja memutuskan untuk melaksanakan “final act of deviance” yaitu Puputan bersama dengan seluruh pasukan dan anggota keluarganya setelah berhari hari bertempur di berbagai sudut kota Denpasar.