Bali In Your Hands - Berjalan-jalan di Bali, tak jarang terlihat pohon besar dengan kain hitam-putih melilit batangnya, diiringi sajen kecil yang diletakkan di akarnya.
Bagi yang belum memahami, mungkin ini hanya sekadar tradisi unik. Namun, bagi masyarakat Bali, memberikan sajen kepada pohon adalah bentuk penghormatan pada kekuatan alam yang tak kasat mata.
Baca Juga: Rahasia Beras di Dahi Makna Mendalam di Balik Tradisi Usai Sembahyang di Pura Bali
Pohon sebagai Rumah Roh dan Penjaga Alam
Dalam kepercayaan Hindu Bali, pohon bukan hanya makhluk hidup yang tumbuh dan memberi manfaat, tetapi juga dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh atau kekuatan gaib.
Pohon-pohon besar dan rimbun, terutama yang sudah berumur tua, dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat.
Beberapa pohon yang sering dihormati antara lain beringin, pule, dan kepuh. Pohon beringin, misalnya, sering dianggap sebagai pohon suci yang menjadi tempat tinggal roh leluhur atau penjaga tak kasat mata.
Oleh karena itu, sajen diberikan sebagai bentuk penghormatan, sekaligus untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia tak terlihat.
Makna Sajen: Lebih dari Sekadar Persembahan
Sajen yang diletakkan di bawah pohon biasanya berisi rangkaian bunga, beras, dupa, dan sesekali buah atau jajanan khas Bali.
Sajen ini bukan sekadar ritual tanpa arti, tetapi memiliki filosofi mendalam.
Dupa yang dibakar bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan dimensi spiritual, sementara bunga dan beras melambangkan penghormatan dan rasa syukur atas perlindungan yang diberikan oleh roh penjaga pohon.
Dalam beberapa kepercayaan, sajen ini juga berfungsi sebagai bentuk permisi sebelum seseorang menebang pohon atau sekadar beristirahat di bawahnya.
Mengapa Pohon Dibalut Kain Hitam-Putih?