• Sabtu, 18 April 2026

Pesona Ramadan di Kampung Jawa Bali Tradisi Unik yang Terjaga di Pulau Dewata

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Minggu, 9 Maret 2025 | 09:54 WIB
 Suasana Ramadan di Kampung Jawa Bali  (bali.tribunnew.com)
Suasana Ramadan di Kampung Jawa Bali (bali.tribunnew.com)

Bali In Your Hands - Di tengah gemerlap pariwisata Bali, Kampung Jawa Bali menghadirkan nuansa Ramadan yang berbeda. Sebagai kawasan yang menjadi rumah bagi komunitas Muslim di Pulau Dewata, kampung ini menyimpan tradisi khas yang telah diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: 10 Tips Sahur Sendirian di Bulan Suci Ramadhan agar Tidak Merasa Kesepian

Meski dikelilingi budaya Hindu yang kental, semangat kebersamaan dalam menyambut bulan suci tetap terasa kuat. Setiap Ramadan, Kampung Jawa Bali menjelma menjadi pusat perayaan yang unik, di mana tradisi Islam berpadu harmonis dengan kearifan lokal Bali.

Menjelang magrib, suasana kampung mulai hidup dengan dentingan alat musik tradisional yang dimainkan di beberapa rumah warga.

Tradisi ini dikenal sebagai "Bedug Magrib", di mana bedug dan rebana dipukul bersahutan sebagai penanda waktu berbuka. Berbeda dari daerah lain, bedug tidak hanya ditabuh di masjid, tetapi juga di halaman rumah sebagai bagian dari ritual keluarga.

Suara bedug ini menjadi pemersatu, mengingatkan setiap orang untuk segera mengakhiri puasanya.

Keunikan lain yang masih terjaga adalah tradisi "Ngejot Ramadan", sebuah kebiasaan berbagi makanan dengan tetangga yang beragama Hindu.

Menjelang berbuka, umat Muslim di Kampung Jawa Bali membagikan hidangan khas seperti sate lilit ikan, ketupat Bali, dan jaje laklak kepada tetangga sekitar sebagai bentuk penghormatan dan toleransi.

Sebagai balasannya, saat perayaan Galungan atau Kuningan, warga Hindu pun membalas dengan memberikan makanan kepada tetangga Muslim mereka.

Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman di Bali bukan sekadar simbol, tetapi telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Malam Ramadan di kampung ini juga terasa istimewa dengan adanya kegiatan "Tadarus Lontar".

Berbeda dari tadarus Al-Qur'an pada umumnya, tradisi ini dilakukan dengan membaca naskah lontar kuno yang berisi ajaran Islam dan nilai-nilai kehidupan dalam bahasa Jawa Pegon dan Bali.

Para tetua kampung membimbing generasi muda untuk memahami makna yang terkandung dalam lontar tersebut, menjadikannya sebagai sarana pembelajaran sekaligus pelestarian budaya literasi Islam di Bali.

Keistimewaan Ramadan di Kampung Jawa Bali semakin lengkap dengan digelarnya "Pawai Malam Seribu Obor".

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Terkini

X