• Sabtu, 18 April 2026

Gubuk Sederhana Di Lereng Gunung Agung Menyimpan Rasa Ayam Betutu Yang Tak Terlupakan

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Minggu, 13 April 2025 | 10:54 WIB
Warung kecil di lereng Gunung Agung sajikan ayam betutu rempah dalam suasana sunyi dan aura mistis kaki gunung suci Bali (google)
Warung kecil di lereng Gunung Agung sajikan ayam betutu rempah dalam suasana sunyi dan aura mistis kaki gunung suci Bali (google)


Bali In Your Hands - Di bawah langit yang sering berkabut tipis, di lereng timur Gunung Agung, ada satu warung kecil beralas tanah dan beratapkan seng. Letaknya tersembunyi, nyaris tanpa papan nama, namun selalu dikunjungi oleh warga dan pendaki yang tahu keberadaannya. Warung ini hanya menyediakan satu menu utama: ayam betutu, yang dimasak perlahan sejak subuh dan disajikan sebelum kabut menutup pandangan.

Baca Juga: Kebahagiaan Kuliner di Surga Bali: Makan Siang di Natah Ubud

Dari tempat duduk kayu panjang, pengunjung bisa melihat gagahnya Gunung Agung berdiri dengan aura yang sulit dijelaskan. Bau rempah menyatu dengan hawa sejuk pegunungan, menciptakan pengalaman makan yang terasa sakral.

Ayam betutu (Google)

Beberapa orang percaya tempat ini berada di jalur energi gunung yang masih disakralkan oleh warga setempat. Tak sedikit yang memilih makan dalam hening, seperti sedang menyatu dengan alam dan semangat para leluhur.

Baca Juga: Menyelami Rasa: Deretan Rumah Makan Nasi Campur Ayam Ternama di Bali

Ayam betutu di sini dimasak dengan cara tradisional: dibungkus daun pisang, dikubur dalam bara, dan dibiarkan matang bersama waktu. Rasanya lebih pekat, dengan sambal matah yang dibumbui daun jeruk dan garam laut. Warung ini buka dari pukul enam pagi hingga jam dua siang, atau sampai lauk habis.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Makan Bebek Terbaik di Bali: Dari Patmoroso hingga Paon Dwaji

Lokasinya berada di Desa Sebudi, Karangasem, persis di tepi jalan kecil yang hanya bisa diakses dengan kendaraan roda dua. Tidak ada teknologi, tidak ada musik, hanya angin dan suara ayam dari dapur belakang.

Baca Juga: Rumah Makan Khas Jawa di Bali: Perpaduan Rasa Nusantara di Pulau Dewata

Kadang, kesederhanaan menyimpan keajaiban yang tak bisa digantikan oleh kemewahan. Di tempat seperti ini, makanan bukan sekadar isi piring, tapi pertemuan antara rasa, suasana, dan keheningan yang menenangkan.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X