• Sabtu, 18 April 2026

Petani Garam Tradisional Di Amed Kembali Hidupkan Teknik Penguapan Matahari Di Lahan Pesisir Tua Bali

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Selasa, 22 April 2025 | 10:00 WIB
kisah para petani garam tradisional di pesisir Amed, Bali, yang kembali menggunakan teknik penguapan matahari untuk menghasilkan garam alami berkualitas tinggi (https://www.mongabay.co.id/)
kisah para petani garam tradisional di pesisir Amed, Bali, yang kembali menggunakan teknik penguapan matahari untuk menghasilkan garam alami berkualitas tinggi (https://www.mongabay.co.id/)

Bali In Your Hands - Pagi di pesisir Amed terasa berbeda. Bukan hanya suara ombak atau deru angin laut, tapi aktivitas para petani garam yang kembali menyiram tanah dengan air laut secara perlahan.

Mereka bukan sekadar mencari penghasilan, tapi sedang menghidupkan kembali teknik penguapan tradisional yang nyaris punah.

Baca Juga: Garis Pantai Hitam Dan Terumbu Karang Amed Menyimpan Keajaiban Laut Tersembunyi Timur Bali

Lahan-lahan berundak dengan warna kehitaman dari tanah vulkanik itu menjadi arena utama bagi pengolahan garam secara alami. Dengan ember-ember besar, air laut diangkut dan dituangkan secara hati-hati di atas petakan tanah. Proses penguapan matahari dimulai di pagi hari dan berlangsung berhari-hari, tergantung cuaca dan kelembapan. Teknik ini diwariskan turun-temurun, namun nyaris hilang karena tergantikan metode modern dan industrialisasi.

Sejumlah petani muda Amed kini memilih kembali ke akar, menjadikan tradisi sebagai daya tarik dan potensi ekonomi. Selain menjual garam alami berkualitas tinggi, mereka juga membuka kawasan ini bagi wisatawan yang ingin melihat prosesnya secara langsung. Ada nilai edukatif, kultural, hingga peluang ekonomi kreatif yang mereka bawa dalam setiap butiran garam yang dihasilkan.

Baca Juga: Menginap Diatas Kolam Lautan Tenang Dan Sarapan Dengan Kabut Tipis Pegunungan Timur Di Balik Perbukitan Amed

Revitalisasi penguapan garam secara tradisional di Amed bukan sekadar soal melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menciptakan ruang baru bagi pertanian garam yang berkelanjutan. Setiap tetes air laut yang berubah menjadi kristal di bawah sinar matahari adalah bukti nyata bahwa semangat untuk menjaga akar budaya tetap menyala di tengah perubahan zaman.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X