• Sabtu, 18 April 2026

Rangkaian Panjang Festival Desa Penglipuran Sorot Potensi UMKM Kuliner dan Kerajinan

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Kamis, 5 Juni 2025 | 09:00 WIB
Desa Wisata Penglipuran tawarkan ragam atraksi, diantaranya Tari Barong Macan (nusabali.com)
Desa Wisata Penglipuran tawarkan ragam atraksi, diantaranya Tari Barong Macan (nusabali.com)


Bali In Your Hands - Deretan aktivitas tahunan bertajuk Penglipuran Village Festival akan kembali mengisi kalender wisata Bangli pada Juli 2025 mendatang.

Desa Penglipuran, yang dikenal karena ketenangan tata desanya, akan disulap menjadi ruang terbuka penuh warna bagi wisatawan dan pelaku usaha mikro. Festival ini digadang menjadi wajah baru promosi desa wisata sekaligus etalase langsung produk lokal masyarakat.

Baca Juga: 8 Tools AI Dalam Daftar Ini Sangat Cocok Bagi UMKM Bakal Cuan Besar!

Manajer Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa menyebutkan bahwa festival ini telah resmi masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara. Tak sekadar seremoni hiburan, acara ini dikemas sebagai bentuk pelestarian budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal.

Selama puncak acaranya dijadwalkan berlangsung pada 5 hingga 7 Juli. Durasi festival akan berlanjut sampai bulan Desember dengan sejumlah kegiatan tematik lintas bulan.

Baca Juga: Hotel Restoran Dan UMKM Bali Terapkan Ekowisata Untuk Menarik Wisatawan Global

Bagi pelaku UMKM lokal, festival ini ibarat panggung terbuka yang mempertemukan produk mereka dengan konsumen dari segala arah. Tak hanya kuliner tradisional seperti jaje uli dan tipat cantok yang akan disajikan, namun juga produk busana tenun endek dan kerajinan bambu akan turut dipamerkan. "UMKM itu bagian dari roda pariwisata, bukan sekadar pendukung," ujar Sumiarsa.

Baca Juga: 5 Perbedaan Usaha UMKM Dan Startup Yang Jarang Dibahas Tapi Menentukan Strategi Bisnis Masa Depan

Pada titik tertentu, Penglipuran Village Festival menjelma sebagai pasar sosial budaya yang berjalan seiring sektor pariwisata dan ekonomi. Tak kurang, keterlibatan komunitas desa setempat jadi penanda bahwa festival ini dijalankan bukan semata karena kewajiban, namun karena keyakinan menjaga akar budaya tetap hidup dalam format modern.

Jika target 4.000 hingga 5.000 pengunjung terpenuhi, maka festival ini tak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjadi pemantik semangat baru dalam tata kelola destinasi berkelanjutan.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Pencatatan Keuangan Jadi Kunci Sukses UMKM Kamu

Tak menutup kemungkinan, jadwal puncak bisa bergeser menyesuaikan koordinasi dengan pihak kementerian. Namun pesan dari desa sudah jelas: ini bukan sekadar acara tahunan, tapi ikhtiar menjaga warisan agar terus berbicara dari generasi ke generasi.

Jadikan setiap langkah wisata tak sekadar berkunjung, tetapi juga mendengar suara desa yang menyatu dengan denyut usaha rakyatnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: Beberapa Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X