Bali In Your Hands - Jika tawa adalah obat paling mujarab, maka film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu adalah dosis tertingginya. Mulai 12 Juni 2025, bioskop seluruh Indonesia bersiap jadi ruang terapi paling absurd, tempat logika tak lagi penting, dan skrip digantikan oleh ledakan bloopers serta improvisasi ala tiga komika yang nekat: Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir.
Film ini bukan sekadar hiburan. Ia menjelma jadi pelarian dari penatnya rutinitas, tanpa perlu tiket mahal atau itinerary ribet. Cukup beli popcorn, duduk santai, dan biarkan kekonyolan tiga tokoh utama yang ingin membatalkan pernikahan ayah mereka membawamu ke semesta ‘ibu-ibu’ yang justru jauh dari citra emak-emak. Eksperimen liar Monty Tiwa ini bukan main-main; ia sengaja membuka ruang bagi improvisasi dan kekacauan terkontrol agar setiap detik di layar adalah kejutan baru.
Gaya komedinya liar, tak kenal sensor, dan sengaja ‘merusak tembok kelima’, di mana sutradara diajak ngobrol oleh aktor, dan momen gagal take justru sengaja dipertahankan. Semua kesengajaan ini menghasilkan sesuatu yang langka: gelak tawa yang organik. Bukan karena skrip sempurna, tapi karena kejujuran dalam kebodohan yang ditampilkan.
Di luar layar, hebohnya film ini sudah terasa sejak tur Special Screening-nya. Mulai dari ibu-ibu arisan, alumni komunitas motor, hingga public figure sekelas Raffi Ahmad dan Anies Baswedan terlibat dalam gaung promosi yang tak biasa. Ada yang menyebutnya sebagai “konstelasi sempurna komedi Indonesia”, ada pula yang menyebutnya sebagai “kebodohan terstruktur yang sangat melegakan”.
Film ini menjadi bukti bahwa komedi tak harus logis, tapi harus jujur. Karena yang dicari bukan alur cerita canggih, melainkan ruang untuk tertawa dan merasa bebas, meski hanya selama 90 menit. Di tengah hidup yang terlalu serius, mungkin yang dibutuhkan hanyalah momen-momen absurd yang mengingatkan bahwa menjadi waras tidak selalu wajib.
***
Artikel Terkait
Film Terminator Adalah Peringatan tentang AI? Akankah AI Mengancam Manusia Pada Akhirnya?
Rekomendasi Film Paskah: Dari The Last Supper hingga The Chosen, Ini Tayangan yang Menyentuh Hati
Film Joko Anwar Pengepungan di Bukit Duri: Pembelajaran Tak Terlupakan tentang Menghentikan Siklus Kekerasan
Film Komang: Menyelami Kehidupan Pencipta Lagu yang Menyentuh Hati