Baliinyourhands.com - Kemajuan Teknologi Artificial Intelligence atau AI yang pesat, kerap membuat sebagian orang merasa takut akan diambil alih pekerjaannya atau malah akan mengancam kehidupan manusia pada akhirnya.
Simak pendapat dari Adez Aulia, seorang pengamat dan praktisi AI serta social media,pada artikel berikut ini.
Film Terminator yang dibintangi Arnold Schwarzenegger mempertontonkan gambaran mengerikan tentang bagaimana AI bisa menjadi ancaman bagi eksistensi manusia. James Cameron melalui film tersebut seolah memperingatkan kita akan bahaya dari teknologi yang terlalu pintar dan tak terkendali.
Baca Juga: Warisan Ketut Liyer: Di Balik Senyuman Sang Penjaga Rahasia Bali
Skynet dalam film tersebut digambarkan sebagai sistem AI yang menyadari keberadaan dirinya dan kemudian memutuskan untuk menghancurkan manusia yang dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya.
Geoffrey Hinton, dikenal sebagai salah satu "Godfather of AI" dan penerima Hadiah Nobel Fisika 2023 atas kontribusinya dalam pengembangan deep learning, baru-baru ini mengejutkan dunia teknologi dengan mengundurkan diri dari Google.
Beliau mengungkapkan kekhawatirannya bahwa AI mungkin akan melampaui kecerdasan manusia lebih cepat dari yang diperkirakan dan berpotensi membahayakan umat manusia. Hinton bahkan menyesali beberapa kontribusinya dalam mengembangkan teknologi yang sekarang dianggapnya bisa menjadi ancaman serius.
Baca Juga: Menyingkap Tabir Balinese Healer: Antara Kearifan Lokal dan Spiritualitas Leluhur
Para skeptis AI lainnya seperti Elon Musk dan Stuart Russell juga telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran mereka tentang risiko eksistensial dari AI superintelijen. Musk bahkan membandingkan pengembangan AI dengan "memanggil setan" dan mendirikan OpenAI (yang ironisnya kemudian ia tinggalkan) sebagai upaya untuk mengembangkan AI yang aman.
Sementara itu, filosofer Nick Bostrom dalam bukunya "Superintelligence" mengingatkan bahwa AI super cerdas bisa jadi sangat berbahaya jika tujuannya tidak selaras dengan kepentingan manusia.
Di sisi lain, tokoh-tokoh yang optimis tentang AI seperti Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, dan Ray Kurzweil melihat AI sebagai alat yang akan memberdayakan manusia, bukan menggantikannya. Zuckerberg percaya AI akan meningkatkan kualitas hidup kita dengan memecahkan masalah-masalah kompleks seperti penyakit dan kemiskinan.
Baca Juga: Melukat: Ritual Suci Bali yang Menyentuh Jiwa Wisatawan Dunia
Kurzweil, futuris terkenal dan Engineering Director di Google, bahkan memprediksi bahwa AI akan membuka era baru inovasi dan kesejahteraan bagi manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Posisi tengah diambil oleh figur seperti Andrew Ng dan Fei-Fei Li yang mendukung pengembangan AI namun dengan regulasi yang ketat dan berprinsip.
Artikel Terkait
Menjual Produk Digital: Cara Cerdas Membangun Bisnis di Era Serba Online
Jejak Nusantara di Negeri Paman Sam: Barang Ekspor Indonesia yang Mendunia di Amerika Serikat
Cita Rasa Nusantara yang Mendunia: Daftar Makanan dan Minuman Indonesia yang Laris di Amerika Serikat
Konten Susah Viral? Cek Aturan Instagram Ini!
Branding Yang Efektif: Memahami 5 Perbedaan Kunci Antara Iklan dan Konten
Rahasia Carousel Estetik yang Trending di Instagram
Kuasai Satu Skill Utama Anti Krisis untuk Masa Depan yang Lebih Aman, Ini Penjelasannya!