• Sabtu, 18 April 2026

Gerakan Sunyi Literasi: IFG Gandeng Perpusnas RI Buka Jalan Buku Sampai ke Pelosok Negeri

Photo Author
Veronica Ellen, BaliInYourHands.com
- Sabtu, 14 Juni 2025 | 12:00 WIB
IFG dan Perpusnas RI kirim buku ke seluruh Indonesia (https://library.chitkara.edu.in/)
IFG dan Perpusnas RI kirim buku ke seluruh Indonesia (https://library.chitkara.edu.in/)

 

Bali In Your Hands - Di tengah bisingnya era digital dan hiruk pikuk layar sentuh, ada gerakan diam yang membangun masa depan: pengiriman buku ke pelosok negeri.

Gerakan ini digerakkan oleh sinergi antara Indonesia Financial Group (IFG) dan Perpustakaan Nasional RI dua institusi berbeda yang disatukan oleh misi yang sama: menyelamatkan literasi dari ketertinggalan.

Tidak banyak yang tahu, sejak awal tahun 2025, IFG dan Perpusnas menjalankan distribusi buku fisik ke 34 provinsi Indonesia. Buku-buku ini tidak dikirim ke pusat kota atau toko buku besar, melainkan ke jantung komunitas: Taman Bacaan Masyarakat dan perpustakaan desa, tempat di mana satu buku bisa menjadi jendela pertama menuju dunia.

Baca Juga: IFG Rayakan Idul Adha 2025 Dengan 138 Hewan Kurban Untuk Wilayah Prioritas

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adjie, menyampaikan bahwa tantangan literasi hari ini bukan hanya kekurangan buku, tetapi juga tergesernya minat baca oleh budaya scroll dan swipe.

Dalam kolaborasi ini, IFG memberikan dukungan nyata dengan prinsip keberlanjutan dan pemerataan akses pendidikan. Buku-buku berkualitas dikirim dari pusat ke titik terjauh, dari kota hingga ke tepi pegunungan Papua.

Lebih dari sekadar CSR, langkah ini menjadi bagian dari strategi sosial IFG yang menyentuh elemen ESG khususnya pada aspek sosial dan pendidikan masyarakat. Dalam jangka panjang, literasi dipandang sebagai fondasi untuk menciptakan sumber daya manusia unggul menuju Visi Indonesia Emas 2045.

Baca Juga: Baca Ini! Prompt AI Strategi Marketing Paling Dicari Praktisi Konten Digital Tahun Ini

Di era ketika layar lebih sering disentuh daripada lembaran kertas, IFG mengembalikan makna membaca yang sesungguhnya: khusyuk, tenang, dan meresap.

Buku cetak menjadi simbol perlawanan terhadap keterputusan generasi terhadap literasi mendalam. Kehadirannya di desa-desa bukan hanya membangun perpustakaan, tetapi juga membangun harapan baru.***

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Veronica Ellen

Sumber: promedia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X