Bali In Your Hands - Kabut tipis menyelimuti pelataran Candi Cetho pagi itu. Kompleks candi yang berada di ketinggian 1.496 mdpl ini menyuguhkan aura mistis, tenang, dan seolah membawa pengunjung melintasi zaman ke masa akhir Kerajaan Majapahit. Candi Cetho dikenal bukan hanya sebagai tempat ibadah Hindu, tetapi juga dipercaya sebagai tempat pertapaan dan pelarian para bangsawan Majapahit setelah keruntuhan kerajaannya. Namun hingga kini, makam para tokoh pentingnya tidak ditemukan.
Ada teka-teki yang membuat Candi Cetho semakin menarik: mengapa tidak ada satupun penanda pasti keberadaan makam para tokoh Majapahit di kawasan yang begitu kuat unsur spiritual dan historisnya. Beberapa arkeolog menduga makam-makam tersebut sengaja disembunyikan untuk menjaga kekuatan magis atau karena alasan keamanan saat konflik kerajaan pecah. Namun tidak ada bukti arkeologis yang bisa memastikan, menjadikan situs ini penuh spekulasi dan hipotesis.
Selain candi, kawasan ini memiliki daya tarik lain yang tak kalah memikat. Wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke kebun teh Kemuning, jalur pendakian Gunung Lawu, dan Astana Giribangun yang dipercaya memiliki garis mistis yang sejajar dengan kompleks Candi Cetho. Lokasi Candi Cetho berada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Tiket masuknya hanya Rp15.000 per orang, dan buka setiap hari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Suasana sejuk pegunungan dan pemandangan hijau menambah keheningan spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain.
Misteri makam yang tak terungkap, arsitektur peninggalan masa akhir Majapahit, serta lanskap spiritual menjadikan Candi Cetho lebih dari sekadar destinasi sejarah. Di balik tiap reliefnya, terhampar jejak-jejak peradaban yang belum selesai dikuak.***
Artikel Terkait
Menyusuri Keheningan Candi Tebing Gunung Kawi Sebatu Yang Terlupakan Di Tengah Hutan Penuh Aura Mistis
Keheningan Lereng Lawu Menyimpan Jejak Langka Candi Cetho dari Zaman Akhir Kejayaan Majapahit