Bali In Your Hands,com - Sore itu Kalangan Angsoka berubah menjadi pusat perhatian penuh haru dan semangat. Sabtu (28/6), ribuan orang berkumpul di Taman Budaya Bali, menyaksikan kehebatan tangan-tangan mungil yang menabuh gamelan dengan penuh penghayatan. Lomba Gender Wayang Anak-anak dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII memikat publik dengan energi dan kemurnian seni yang tulus dari generasi penerus.
Empat pasang penabuh cilik tampil mewakili Gianyar, Klungkung, Bangli, dan Karangasem. Mereka memainkan tiga gending utama yang sarat tantangan dan emosi, dari Cangak Merengang yang lincah hingga Gending I Rebong yang menghadirkan dinamika kuat antara keras dan lembut. Setiap denting pukulan menyatu dengan perasaan, menghipnotis penonton yang memenuhi area hingga duduk di pelataran luar.
Suasana makin membuncah saat pasangan penabuh memainkan pukulan simetris namun berbeda peran, mengundang decak kagum dari juri. I Gusti Putu Sudarta, dosen pedalangan ISI Bali, menyatakan bahwa seni gender wayang tak hanya melatih musikalitas, namun juga membentuk kepekaan batin dan karakter anak. Ia menilai kemampuan bermain dengan dua panggul adalah bukti anak mampu menyelaraskan otak kiri dan kanan sekaligus.
Di balik penampilan mengesankan, ada proses panjang dan seleksi ketat. Pelatih Sanggar Suara Murti, I Ketut Buda Astra, mengungkapkan bahwa Gianyar sebagai juara bertahan sudah memulai latihan sejak 2024. Fokusnya bukan hanya teknis, tapi juga mental dan filosofi yang melekat pada setiap gending. Latihan dilakukan secara berkala dan mendalam agar anak tidak sekadar mahir menabuh, tapi paham makna dan rasa.
Meski Buleleng belum mengirimkan wakil, tren minat gender wayang di kalangan anak-anak menunjukkan peningkatan. Hal ini menandakan adanya pergeseran baru di tengah arus gong kebyar yang lebih populer. Anak-anak kini mulai diajak kembali mencintai bentuk seni halus yang memerlukan keheningan batin dan konsentrasi tinggi.
Pertunjukan ini menjadi titik terang bahwa tradisi tua tak pernah kehilangan daya tarik bila diwariskan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Anak-anak yang tampil tidak hanya mewarisi teknik, tetapi juga nilai-nilai spiritual, disiplin, serta intelektual yang terlatih sejak dini. Gender wayang menjadi jembatan budaya yang tetap relevan dan hidup di hati generasi muda.***
Artikel Terkait
Menguak Kopi Luwak Bali: Keunikan, Proses Alami, dan Seni Roasting yang Mendunia
Bali Hype Mei 2025: Festival Yoga, Lari Lintas Alam, Seni, dan Kuliner Membanjiri Pulau Dewata!
Rekomendasi Hotel Ramah Keluarga Di Sanur Dengan Sentuhan Seni Dan Spa Tropis
Fadli Zon Puji Parade Seni Desa Adat Bali dalam Pembukaan PKB XLVII Tahun 2025
Karya Gebyar Generasi Muda Buleleng Barat Tampilkan Wajah Harmoni Dalam Seni Bali