Bali In Your Hands - Pemandangan kantor yang tampak normal sering menyembunyikan cerita berbeda. Ada karyawan muda yang hadir tepat waktu, menyelesaikan tugas, tetapi tanpa ekspresi antusias. Fenomena ini dikenal sebagai silent quitting, ketika Gen Z memilih tidak mengundurkan diri, namun berhenti memberi energi lebih dari yang diwajibkan.
- Alasan utama silent quitting yang sering muncul di kalangan Gen Z antara lain:
- Kelelahan mental – tugas berlebihan tanpa penghargaan membuat semangat padam.
- Tidak ada ruang berkembang – karier terasa jalan di tempat, tanpa kesempatan belajar baru.
- Atasan tidak suportif – kritik lebih sering datang dibanding dukungan.
- Budaya kerja menekan – jam panjang dianggap biasa meski mengganggu keseimbangan hidup.
Baca Juga: Rahasia Perlindungan Kulit Dengan Sunscreen Saat Berlibur Ke Pantai Agar Tetap Sehat
Beberapa perusahaan mencoba mengatasi fenomena ini dengan memberikan career mapping, feedback rutin, hingga program pengembangan diri. Strategi ini terbukti membuat Gen Z kembali terlibat aktif tanpa merasa terjebak.
Menurut laporan CNBC Indonesia (2024), tren silent quitting meningkat signifikan pasca pandemi karena Gen Z lebih peduli pada keseimbangan hidup daripada status jabatan.
Silent quitting adalah sinyal keras yang perlu didengar. Bukan tanda malas, melainkan cara generasi muda melindungi diri dari lingkungan kerja toxic. Jika ruang kerja lebih manusiawi, maka kreativitas dan energi mereka akan kembali menyala.***
Artikel Terkait
Lima Cafe Hidden Gem di Bali Buat Kerja Santai Harga Hemat tapi Tetap Estetik
Panduan Membentuk Tim Kerja Solid dengan Metode DISC untuk Hasil Maksimal
10 Ide Lomba Seru untuk Staff dalam Meriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Tempat Kerja
10 Rekomendasi Sajian Kuliner untuk Karyawan dalam Perayaan HUT RI ke-80 yang Bikin Semangat Kerja