Tradisi ini lahir dari filosofi Hindu Bali yang melihat binatang sebagai bagian dari alam yang memiliki peran spiritual. Kehadiran mereka di pura dianggap bukan kebetulan, melainkan sebuah pesan dari alam bahwa harmoni harus dijaga. Dalam ajaran Tri Hita Karana, hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan menjadi fondasi penting dalam menjaga kehidupan.
Binatang-binatang ini tidak hanya dihormati, tetapi juga dilibatkan dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat. Persembahan untuk mereka diberikan secara rutin sebagai bentuk penghormatan, mencerminkan bagaimana manusia Bali hidup berdampingan dengan alam dalam keselarasan.