panduan-bulanan

Benarkah Makan Gorengan Saat Berbuka Puasa Membuat Berat Badan Naik Lebih Cepat?

Kamis, 27 Maret 2025 | 12:25 WIB
Data konsumsi gorengan, kandungan kalori, risiko kesehatan, alternatif sehat, dan rekomendasi konsumsi seimbang. (https://e-katalog.lkpp.go.id/)

Bali In Your Hands - Berbuka puasa dengan gorengan sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Rasa gurih dan tekstur renyahnya menggoda, apalagi setelah seharian menahan lapar.

Namun, ada anggapan bahwa mengonsumsi gorengan saat berbuka dapat membuat berat badan naik lebih cepat. Apakah benar demikian, atau hanya sekadar mitos?

Makanan yang digoreng memang tinggi kalori. Minyak yang meresap ke dalam makanan menambah jumlah lemak yang dikonsumsi.

Baca Juga: Bebek Patmoroso dan Paon Dwaji Terkenal Gara-Gara Youtuber Nex Carlos, Nggak Ada Obat!

Jika tidak diimbangi dengan asupan sehat dan aktivitas fisik yang cukup, kalori berlebih ini bisa berujung pada penambahan berat badan.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, satu potong gorengan seperti bakwan atau risoles mengandung sekitar 140-200 kalori, tergantung jenis dan bahan yang digunakan.

Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa diimbangi dengan pembakaran kalori yang cukup, tentu akan berdampak pada peningkatan berat badan.

Selain itu, gorengan sering kali mengandung tepung sebagai pelapis, yang meningkatkan kadar karbohidrat sederhana.

Baca Juga: Nikmati Seafood Fresh di Tepi Pantai Kelan, Bali: Black Pearl Tempatnya!

Karbohidrat jenis ini lebih cepat dicerna tubuh, menyebabkan lonjakan gula darah yang bisa memicu rasa lapar lebih cepat. Akibatnya, asupan makanan saat berbuka menjadi tidak terkendali.

Sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang digoreng secara rutin dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 37%. Lemak trans yang terbentuk dalam proses penggorengan juga meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL), yang berkontribusi pada risiko penyakit jantung dan diabetes.

Selain dampak kalori dan lemak, cara penyajian gorengan juga berpengaruh. Jika minyak digunakan berulang kali, zat berbahaya seperti akrilamida dapat terbentuk.

Baca Juga: Oleh-Oleh Mewah dari Bali: Sensasi Renyah Cemilan Taiwan yang Menggoda!

Sebuah penelitian dari National Cancer Institute menunjukkan bahwa akrilamida dalam makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat meningkatkan risiko kanker dan menghambat metabolisme tubuh.

Halaman:

Tags

Terkini