Baliinyourhands.com - Menjelang hari raya Galungan, Bali bergerak dalam ritme yang berbeda. Pulau yang biasanya dipenuhi suara debur ombak dan deru kendaraan wisata, perlahan diwarnai oleh kesibukan yang lebih sakral: persiapan menuju perayaan besar umat Hindu Bali. Galungan bukan sekadar hari raya.
Ia adalah perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma, yang menandai hadirnya roh leluhur kembali ke rumah untuk diberkati. Dan di balik makna spiritual yang mendalam, ada serangkaian kegiatan yang membentuk denyut kehidupan warga lokal.
Beberapa hari sebelum Galungan, suasana desa-desa di Bali mulai berubah. Di pinggir jalan, para petani dan ibu rumah tangga tampak memikul batang bambu panjang. Inilah awal dari proses pembuatan penjor, simbol utama Galungan.
Baca Juga: Menyingkap Tabir Balinese Healer: Antara Kearifan Lokal dan Spiritualitas Leluhur
Penjor adalah tiang melengkung yang dihias janur, bunga, buah-buahan, dan aneka hasil bumi, yang diletakkan di depan rumah. Selain sebagai wujud syukur, penjor juga menjadi tanda penghormatan pada Dewa dan leluhur.
“Setiap penjor memiliki nilai spiritual. Itu bukan sekadar hiasan,” ujar I Made Sudarma, seorang pemangku dari Desa Tegallalang, Gianyar. “Kami membuatnya dengan hati-hati, dengan doa, karena itu adalah persembahan kami pada alam dan para leluhur.”
Di dapur-dapur rumah warga, hiruk-pikuk mulai terdengar sejak tiga hari sebelum Galungan, yang dikenal sebagai Penyajaan Galungan.
Baca Juga: Melukat: Ritual Suci Bali yang Menyentuh Jiwa Wisatawan Dunia
Ini adalah hari di mana berbagai jenis kue dan jajanan tradisional seperti jaja uli (ketan goreng) dan jaja gina (kue manis dari tepung beras) mulai dibuat. Aroma kelapa sangrai dan gula merah memenuhi udara, menciptakan nuansa nostalgia dan kehangatan.
Satu hari sebelum Galungan disebut Penampahan Galungan, hari di mana persiapan mencapai puncaknya. Di hari inilah biasanya keluarga menyembelih hewan seperti ayam atau babi untuk keperluan upacara dan hidangan. Dagingnya kemudian diolah menjadi lawar, sate, dan hidangan khas lainnya yang akan disajikan saat Galungan.
“Penampahan bukan hanya tentang memasak. Itu hari di mana keluarga berkumpul, saling bantu, saling cerita. Suasana gotong-royong itu yang paling kami rindukan,” kata Ni Ketut Riani, seorang ibu rumah tangga di desa Buduk, Badung. “Kami ingin anak-anak kami tetap merasakan kebersamaan itu, meski zaman terus berubah.”
Baca Juga: Menemukan Inner Sanctuary: Menyusuri Ruang Damai dalam Diri dan Memiliki Koneksi Kembali
Anak-anak desa biasanya diberi tugas ringan seperti mengantarkan banten (sesajen) atau mempersiapkan janur. Sementara para pemuda, selain membantu fisik, juga terlibat dalam kegiatan keagamaan di banjar. Ritual-ritual kecil mulai dilakukan, dari membersihkan pura keluarga hingga menghias pelinggih dengan kain putih dan kuning, menandakan kesucian dan keselarasan.
Hari Galungan sendiri adalah momen sakral dan penuh khidmat. Warga Bali akan mengenakan pakaian adat terbaik mereka, membawa persembahan ke pura keluarga, pura desa, hingga pura-pura besar. Tapi keindahan Galungan bukan hanya pada ritualnya, melainkan pada suasana: senyum yang lebih tulus, sapa yang lebih hangat, dan rasa damai yang mengalir di udara.