panduan-bulanan

Makan Seafood Di Warung Mangrove Budeng Sambil Nikmati Teh Donju Dan Kripik Dari Hasil Hutan Lestari

Sabtu, 10 Mei 2025 | 12:30 WIB
Kawasan ekowisata mangrove di Bali juga menawarkan wisata kuliner (pexels/iconOcom)


Bali In Your Hands - Tak sekadar duduk menikmati ikan bakar, makan di tengah hutan mangrove Desa Budeng jadi pengalaman yang tak terlupa.

Dikelilingi rindangnya pohon bakau, Warung Mangrove menghadirkan suasana bersantap yang unik dan teduh.

Menu yang disajikan pun tak biasa dimasak oleh kelompok perempuan desa, dengan bahan tangkapan laut langsung dari masyarakat sekitar.

Baca Juga: Camping Tepi Sungai Di Bongkasa Bali Dengan Tenda Premium Dekat Aliran Air Dan Hutan Rimbun, Cobain Yuk!

Warung ini hadir dari upaya Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Mertha yang sejak 2011 mengelola sekitar 25 hektar kawasan mangrove di Jembrana, Bali.

Dikenal sebagai pelestari mangrove dengan tiga pendekatan ekowisata, hasil hutan bukan kayu (HHBK), dan silvofishery KTH memperluas manfaat kawasan ini hingga mendukung ekonomi lokal.

Dari mangrove, muncul produk khas seperti teh Donju yang diseduh dari daun mangrove, kripik mangrove, dan pil herbal berbahan dasar buah bakau.

Baca Juga: Unik ! Hutan Cemara Di Pantai Pengalon Bali Timur Sajikan Nuansa Korea Gratis Dengan Spot Estetik

Pesisir Lestari, lembaga lokal non-pemerintah, turut mendampingi masyarakat dalam pendekatan Community-led Sustainable Natural Resources Management.

Pendekatan ini menempatkan warga sebagai pusat pengelolaan kawasan dengan mengedepankan keberlanjutan.

Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan produk kuliner, tetapi juga memberi edukasi pada pengunjung tentang pentingnya mangrove sebagai penyimpan karbon dan pelindung alami pesisir.

Baca Juga: Ayunan Tradisional Di Tengah Hutan Pujungan Hadirkan Spot Foto Bernuansa Alam Bali Yang Jang Diketahui Wisatawan

Warung Mangrove menjadi titik temu antara alam, budaya, dan rasa. Perempuan lokal berdaya melalui dapur, masyarakat terbantu secara ekonomi, dan kawasan mangrove terlindungi.

Budaya makan tak lagi soal rasa, tapi juga pelestarian. Di sela gigitan kripik dan tegukan teh Donju, hadir kesadaran baru: bahwa sebuah hutan bisa menyajikan lebih dari sekadar keteduhan.***

Tags

Terkini