panduan-bulanan

Tampil Cantik Dukung Alam Inilah Jejak Produk Lokal yang Jadi Harapan Baru Bagi Iklim

Senin, 30 Juni 2025 | 20:57 WIB
Tampil Cantik Dukung Alam Inilah Jejak Produk Lokal yang Jadi Harapan Baru Bagi Iklim (Eurekawoman)


Bali In Your Hands - Kesadaran akan krisis iklim mendorong industri kecantikan dan fashion Indonesia untuk berubah. Di tengah ancaman emisi karbon yang kian memburuk, muncul upaya dari pelaku lokal untuk tidak hanya tampil menarik, tapi juga menjaga bumi tetap lestari. Data PBB menunjukkan, industri fashion bertanggung jawab atas 8 hingga 10 persen total emisi global, lebih tinggi dari gabungan emisi penerbangan dan transportasi laut.

Sektor ini kini mulai bergerak ke arah keberlanjutan. Bukan sekadar tren, produk-produk berbasis bahan alami mulai bermunculan dengan membawa dampak ganda bagi bumi dan komunitas lokal. Di Indonesia, sejumlah brand menghadirkan harapan baru: mempercantik kulit tanpa meninggalkan jejak buruk di lingkungan.

Baca Juga: Simak Perbedaan Antara UMKM, Straup dan Ritisan

Inilah kisah tentang tiga produk lokal yang tak hanya menyentuh kulit, tapi juga menyentuh bumi.

1. Sabun Citronella dari Sigi: Kecantikan yang Lahir dari Bencana
Di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sabun berbahan sereh wangi diproduksi oleh Badan Usaha Milik Desa setempat. Produk berlabel Tumbavani ini lahir dari inisiatif pemulihan ekonomi pasca banjir bandang. Dengan masa panen sereh yang hanya empat bulan, bahan baku sabun ini tersedia berkelanjutan. Produksi melibatkan ibu rumah tangga dan anak muda lokal, didampingi oleh Mercy Corps Indonesia dan inkubator bisnis Gampiri Interaksi Lestari.

Menurut Nedya Sinintha Maulaning, Ketua Gampiri, produk ini menggunakan bahan alami seperti sereh wangi dan daun kelor yang ramah kulit dan ramah lingkungan. Proses produksi juga memperhatikan kualitas dan keamanan sehingga menciptakan sabun lokal yang layak masuk pasar modern.

Baca Juga: UMKM Bali Berevolusi dengan Instagrammable Experience dan Branding Berbasis Tren

2. Skincare Arcia dari Kalimantan Barat: Tradisi Jadi Inovasi
Arcia memanfaatkan kekayaan alam Kalimantan Barat seperti tengkawang, kemiri, dan lidah buaya. Didirikan oleh Yenni Angreni, brand ini tidak memakai bahan kimia sintetis. Filosofinya berangkat dari kebiasaan masyarakat lokal yang sejak dulu merawat kulit dengan bahan alami.

Nilai tambahnya terletak pada kemasan ramah lingkungan yang bisa didaur ulang. Arcia juga menghadirkan produk praktis seperti sampo batangan dan kondisioner tanpa bilas hemat air dan anti tumpah. Produk ini membuktikan bahwa tradisi bisa menjadi inovasi masa depan kecantikan hijau.

3. Foresta: Minyak Atsiri Premium dari Hutan Indonesia
Di balik kesan mewah produk Foresta, tersembunyi sistem agroforestri rakyat yang mendukung pelestarian hutan. Tanaman seperti nilam, palmarosa, dan sereh ditanam di hutan oleh masyarakat lokal dan berfungsi sebagai pelindung tanah. Minyak yang dihasilkan diproses ramah lingkungan dan diuji kemurniannya di laboratorium independen.

Baca Juga: Sampoerna Perkuat Hilirisasi Industri Lewat 347000 UMKM Dan Investasi Bebas Asap

Foresta juga telah mengantongi sertifikasi Wildlife Friendly, menjamin bahwa seluruh proses produksi tidak mengganggu habitat satwa liar. Menurut Eka Maulana Nugraha Putra dari Conservana, produk ini dirancang tidak hanya untuk kecantikan kulit, tapi juga keberlangsungan hutan tropis Indonesia.

Langkah tiga produk ini menunjukkan bahwa kecantikan bisa berpihak pada bumi. Setiap tetes sabun, setiap olesan krim, dan setiap hirupan aromaterapi kini bisa mengandung kekuatan pemulihan bagi kulit, komunitas, dan iklim. ***

 

Tags

Terkini