Bali In Your Hands.com - Di tengah derasnya film horor urban modern, Syirik Danyang Laut Selatan hadir membawa warna berbeda. Tak hanya menyajikan ketegangan dan mistis khas pesisir selatan Jawa, film ini mengangkat lapisan budaya, kesenian rakyat, dan realita sosial yang terlupakan. Tokoh Ningsih yang diperankan Nikita Mirzani tampil sebagai penari ledhek desa, sebuah peran yang mencerminkan perjuangan perempuan akar rumput dalam mempertahankan identitas dan cita-cita.
Peran ini bukan sekadar tempelan. Ningsih adalah gambaran perempuan yang hidup dalam tekanan norma, tetapi tak pernah menyerah pada stigma. Dalam narasi film, kehadiran Ningsih menjadi jembatan antara dunia tradisi dan konflik spiritual yang menyelimuti desa pesisir tersebut. Ketika desa itu jatuh dalam praktik ilmu hitam demi kekuasaan, sosok Ningsih muncul sebagai simbol perlawanan yang tak bersenjata.
Baca Juga: Unggahan Terakhir Gustiwiw di Instagram, Tentang Apresiasi pada Lagunya di Film GJLS: Ibuku Ibu-ibu
Disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini juga mempertemukan sederet aktor ternama seperti Teuku Rassya, Richelle Skornicki, Donny Alamsyah, dan Kinaryosih. Masing-masing karakter diberi kedalaman psikologis yang membuat konflik antartokoh terasa hidup. Said, santri muda yang baru kembali, menemukan desa yang telah dirasuki kekuatan gelap. Sari, kekasih lamanya, terperangkap dalam dilema antara cinta dan kepercayaan.
Unsur mistis dalam film ini tidak sekadar menjadi gimmick menakutkan, melainkan menyatu dengan filosofi budaya Jawa. Ritual santet, tumbal manusia, dan figur Ki Dalang sebagai tokoh gelap yang mendambakan kekuatan mutlak menjadi kritik terhadap obsesi kekuasaan yang melampaui batas moral. Lokasi syuting yang memanfaatkan pesisir selatan dengan lanskap eksotis juga memperkuat suasana magis sekaligus muram.
Baca Juga: Film GJLS Ibuku Ibu-Ibu, Terapi Ngakak Nasional yang Bikin Waras Itu Terasa Overrated
Nikita Mirzani mencuri perhatian dengan penjiwaan yang tidak berlebihan namun menyentuh. Penampilannya sebagai penari tradisional tidak hanya memperlihatkan kedisiplinan akting, tapi juga kecermatan dalam mendalami budaya. Sutradara Hestu Saputra bahkan menyebut keterlibatan Nikita sebagai langkah yang menghidupkan kembali seni ledhek dalam dunia perfilman.
Film ini akan dirilis secara nasional pada 19 Juni 2025 dan berpotensi menjadi titik balik narasi horor Indonesia yang lebih sarat makna dan representasi budaya. Penonton tak hanya disuguhi ketakutan, tetapi diajak memahami akar tradisi yang terpinggirkan dan bahayanya ketika kekuasaan dipertuhankan.***