panduan-bulanan

Teduh Beringin Penjaga Tradisi Nganget Don Bingin dalam Harmoni Alam Bali

Minggu, 16 November 2025 | 19:26 WIB
Teduh Beringin Penjaga Tradisi Nganget Don Bingin dalam Harmoni Alam Bali (Baliexpress)

Bali In Your Hands - Di balik rimbun beringin tua yang berdiri kokoh di halaman desa adat Bali, tersimpan sebuah ritual yang menyatukan manusia dan alam dalam satu napas yang sama. Setiap helai daun yang bergerak pelan seakan membawa pesan tentang warisan panjang yang dijaga dengan penuh ketulusan. Di sinilah masyarakat desa berkumpul, bukan hanya untuk melaksanakan upacara, tetapi juga merawat hubungan spiritual yang mengakar dalam kehidupan sehari hari.

Baca Juga: Menikmati Sunset di Tanah Lot: Keindahan Alam dan Nilai Budaya yang Tak Lekang oleh Waktu

Ritual Nganget Don Bingin tumbuh dari pemahaman mendalam terhadap beringin sebagai simbol peneduh kehidupan. Pohon berusia ratusan tahun ini menjadi pusat kegiatan budaya yang tetap terpelihara di beberapa desa tua seperti Tenganan dan Penglipuran. Bagi masyarakat adat, beringin bukan sekadar tumbuhan besar, melainkan penjaga ruang suci yang menghubungkan bumi dan langit. Segala rangkaian ritual disusun rapi agar tetap selaras dengan nilai leluhur yang diwariskan turun temurun.

Baca Juga: Tipat Kuah, Kuliner Tradisional Bali yang Hangat dan Penuh Makna Budaya

Ketika ritual dimulai, suasana desa berubah menjadi tenang dan penuh kekhidmatan. Masyarakat lebih dulu melakukan pembersihan area beringin, memastikan setiap sudut tertata sebelum memasuki tahap inti upacara. Sesajen yang terdiri dari buah segar, bunga wangi, daun muda, dan dupa dipersiapkan dengan teliti oleh para perempuan desa. Peserta kemudian menuju mata air suci untuk penyucian diri, sebuah proses yang menjadi simbol kesiapan batin sebelum mengikuti rangkaian doa yang dipimpin pemangku adat di bawah teduhan beringin.

Pada saat upacara utama berlangsung, kidung suci dinyanyikan perlahan hingga memenuhi seluruh area. Beringin memayungi para peserta yang duduk melingkar, menciptakan suasana sakral yang sulit ditemukan di tempat lain. Ritual kemudian ditutup dengan pembagian hasil bumi, bentuk syukur sekaligus pengingat untuk saling berbagi rezeki. Kebersamaan tersebut menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat.

Baca Juga: Ngurek Bali Sebagai Tradisi Kebersamaan Yang Merekatkan Hubungan Sosial Dan Menguatkan Identitas Budaya Leluhur

Keberadaan beringin sebagai pusat ritual memberikan dampak besar pada ekosistem desa. Akar gantungnya menjaga tanah tetap kokoh, menyediakan tempat berlindung bagi burung, dan membantu menjaga ketersediaan air tanah. Perawatan area beringin menjadi bagian dari rutinitas masyarakat sehingga lingkungan tetap lestari. Inilah wujud nyata dari hubungan yang saling mendukung antara budaya dan alam.

Generasi muda kini mengambil peran lebih aktif melalui kegiatan seni, diskusi adat, dan program pelestarian lingkungan. Mereka belajar memahami makna ritual secara mendalam, sekaligus membawa tradisi ini ke ruang publik melalui media sosial dan acara budaya desa. Keterlibatan tersebut memastikan bahwa nilai leluhur terus hidup dan tidak hanya menjadi catatan sejarah.

Beringin tetap berdiri sebagai pengingat bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara alam dan manusia. Tradisi ini menegaskan bahwa keberlanjutan dimulai dari kesadaran untuk menjaga apa yang diwariskan oleh para pendahulu. Setiap daun yang bergerak pelan di bawah angin membawa pesan bahwa harmoni adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan sehari hari.***

Tags

Terkini