Baliinyourhands.com - Dalam wacana pembangunan sosial, istilah Asset-Based Community Development (ABCD) semakin sering terdengar. Pendekatan ini dipandang sebagai alternatif segar dari model pembangunan tradisional yang kerap menekankan pada kekurangan atau masalah sebuah komunitas.
Alih-alih berfokus pada kelemahan, ABCD justru mengajak masyarakat untuk melihat aset, potensi, dan kekuatan yang sudah mereka miliki.
ABCD pertama kali diperkenalkan oleh John Kretzmann dan John McKnight dari Northwestern University, Amerika Serikat, pada awal 1990-an. Mereka menilai bahwa program pembangunan akan lebih berkelanjutan jika masyarakat dilibatkan secara aktif dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Baca Juga: 6 Panduan Praktis Memulai Social Enterprise di Indonesia
Aset yang dimaksud bukan hanya berupa harta benda atau infrastruktur, tetapi juga keterampilan warga, jaringan sosial, budaya, serta nilai gotong royong.
Dari Kekurangan Menuju Kekuatan
Pendekatan pembangunan biasanya diawali dengan pertanyaan: apa yang kurang? Misalnya, kurangnya fasilitas kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan, atau terbatasnya lapangan pekerjaan. ABCD membalik sudut pandang tersebut menjadi: apa yang sudah ada?
Contohnya, sebuah desa mungkin belum memiliki puskesmas modern, tetapi memiliki bidan dan kader posyandu yang aktif. Ada pula kelompok pemuda dengan keterampilan digital, atau lansia yang menguasai pengobatan tradisional. Semua itu dihitung sebagai aset yang dapat diberdayakan untuk meningkatkan kualitas hidup bersama.
Baca Juga: Peluang Karier dan Investasi di Bidang Social Enterprise di Indonesia
Lima Jenis Aset dalam ABCD
Secara umum, ada lima kategori aset yang diperhatikan dalam pendekatan ini:
-
Individu – keterampilan, pengalaman, dan bakat tiap orang dalam komunitas.
-
Asosiasi – kelompok atau organisasi lokal, seperti karang taruna, kelompok tani, hingga komunitas hobi.
-
Institusi – sekolah, tempat ibadah, atau lembaga lokal yang bisa menjadi pusat kegiatan.
-
Fisik dan Alam – lahan, bangunan, fasilitas umum, hingga keindahan alam yang bisa dimanfaatkan.
-
Ekonomi Lokal – usaha mikro, pasar tradisional, dan mekanisme ekonomi yang sudah berjalan.
Artikel Terkait
6 Macam Strategi Exit dari Bisnis yang Wajib Dipahami Pengusaha
Ide Usaha Jualan Donat Ala Jadul yang Kembali Populer dan Menguntungkan
Cara Membuat SOP Usaha dan SOP Dasar yang Wajib Dimiliki Setiap Bisnis
Mengenal Apa Itu Social Enterprise dan Bedanya dengan Perusahaan Biasa
Mengenal Social Enterprise di Indonesia: Dari Du Anyam hingga Waste4Change